kami tidak mau pamer kemewahan ?

"kami tidak mau pamer kemewahan"

"sesuai dengan visi kerakyatan kami"

kurang lebih itu kata haryanto taslam tentang rencana parpolnya deklarasi di bantar gebang.
pernyataan ini penuh dengan ironi, dan paradoks (atau bukan?). Saya tercekat, kalau memang tidak mau pamer kemewahan, mengapa tidak di teuku umar saja? atau di stasiun gambir?

kalau di bantar gebang, artinya namanya "pamer kemiskinan", "pamer keterpurukan", nah kalo ini dibilang hebat dan merakyat, negara macam apa kita ini ya, sombong dengan menjadi miskin. Saya membayangkan ketika deklarasi ini gambar gambar mega-pro bakal menyebar dimana mana di luar negeri, di televisi dan di media cetak. Calon presiden dan cawapres indonesia di sela timbunan sampah. Mau dikemanakan martabat bangsa? Orang mungkin bilang"ini yang nyata nyata saja, masih banyak orang miskin di negara kita", well menurut saya capres dan cawapres memang tidak mesti menjual janji muluk, tapi juga tidak mesti belagak miskin. Presiden itu simbol negara, simbol harapan dan cita cita.

Bisa dibayangkan mirisnya hati ini melihat capres indonesia di bantar gebang di "siaran tunda" youtube, mungkin tak smua merasakan, hidup di negeri orang, jauh dari keluarga, sekolah tinggi buat negeri, dus calon pemimpinnya malah sudah mengerdilkan bangsa sendiri.

tentang visi kerakyatannya, apakah itu ekonomi kerakyatan mereka? ekonomi sampah? Wah hebat nian. Lalu dianggap apa orang orang yang banting tulang di jalan sudirman, anak anak muda di kampus kampus yang belajar dengan optimisme dan hausnya ilmu.

tuhan, manusia memang keterlaluan..

Resume Dagelan politik pencalonan cawapres

Masih ingat dengan hingar bingar politik beberapa hari yang lampau? bising, sekaligus terlihat dangkal. Isu yang paling menyedihkan adalah ketika sekumpulan partai (yang mengaku) islam
merendahkan kualitas iman atau identitas keislaman seorang muslim. Seorang guru yang bersahaja, yang dari sejak awal ingin kembali ke kampus.

Seorang yang tidak ingin berkuasa, tapi bersedia jika bangsa meminta. Apalah arti menjadi wapres baginya? uang sudah cukup, usia sudah tidak muda, tidak ada partai yang perlu dipuaskan. Tetap saja partai partai itu menyerang karakter guru kami itu dengan tanpa malu.

apa jawabnya? saat deklarasi dia hanya berucap " saya tahu pencalonan saya menjadi kontroversi, tapi itulah konsekuensi dari demokrasi yang hidup .." tidak ada sindiran kasar, tidak ada celaan, tidak juga pembelaan.

Tuhan, kau mensaksikan betapa orang yang merasa paling islam itu memang sholeh, tahajudnya banyak hingga dahi hitam, tapi tuhan smoga kau tidak lupa keadilan juga buat guru kami, jagalah beliau di masa datang, dia akan pergi menuju lembah hitam tak berujung. Jagalah dia, karena aku tidak percaya pada orang orang (yang katanya) representasi muslim itu...


berikut tulisan ayu utami, sedikit banyak merekam apa yang terjadi beberapa hari ke belakang "

Naik Kereta dengan Pak Boed
Sunday, 17 May 2009
Memang saya lega ketika nama Boediono dipastikan menjadi “permaisuri” bagi SBY. Karena itu, ketika diajak naik kereta bersama Pak Boed,saya pun mengiya.Kami naik kereta Parahyangan.Bukan kereta terbaik dan tercepat menuju Bandung.


Kursinya agak apek dan WCnya, meski tersedia tisu, tetaplah berbau, serta ada segumpal tisu yang menyisip di jendela kakus itu. Tapi, ini adalah perjalanan awal yang baik bagi seorang calon negarawan. Perjalanan yang sederhana dengan kendaraan rakyat. Hari Jumat itu akan ada Deklarasi “SBY Berbudi”, alias SBY bersama Boediono.Tapi, sekelompok intelektual dan budayawan sepakat untuk “menculik” dan “menginisiasi” Pak Boed dulu sebelum deklarasi besar.

Sebagian mereka misalnya Taufik Rahzen, Faisal Basri, Muhammad Chatib Basri, dan penggagas acara Rizal Mallarangeng, yang mengenal Pak Boed secara langsung sejak mereka mahasiswa dan sang tokoh adalah dosen bersahaja. Acara “inisiasi” terhadap Pak Boed juga sederhana, dilaksanakan di Gedung Indonesia Menggugat, tempat Soekarno dulu diadili. Cawapres pun “diadili”, disuruh mendengarkan nyaring aktor Wawan Sofwan mementaskan teks pembelaan Soekarno selama hampir 20 menit.

Setelah itu mendengar pidato sastrawan Goenawan Mohamad juga hampir 20 menit.Pak Boed sendiri tak diberi kesempatan bicara sama sekali.Ini adalah “inisiasi” melepas seorang teman, seorang dosen, menjadi negarawan. Di kereta Parahyangan menuju Bandung itu, Pak Boed pergi ke kamar kecil.Seperti biasa juga ibuibu bertanya,“Apakah WC cukup oke”. Sambil senyum-senyum,Pak Boed berkata, “Kalau bisa tahan, sebaiknya tahan saja”.

Saya kira bukan mengeluh, melainkan ia justru mengerti bahwa ibu-ibu selalu lebih repot menggunakan kakus daripada para bapak. Memang saya lega bahwa SBY memilih Boediono. Alasannya jelas. Saya orang nonpartai yang banyak bekerja di bidang seni–– dunia yang membutuhkan iklim kebebasan kreatif. Satu. Saya prihatin melihat “mating season”–– musim cari jodoh—yang menjadi ajang dagang. Tawar-menawar perjodohan kandidat presidenwakil hanya merupakan tawarmenawar kekuasaan dan jabatan.

Kepentingan bangsa tak menjadi pertimbangan. Dua. Karena hanya kepentingan jangka pendek yang jadi pertimbangan, dua jenderal yang menyimpan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu diterima. Saya kenal pribadi almarhum pejuang hak asasi manusia Munir, istrinya Suciwati, atau Mbak Pon, istri penyair Wiji Thukul. Maka, saya punya perasaan langsung mengenai mereka yang dibunuh atau dihilangkan dalam masa tanggung jawab kedua jenderal tersebut. Menerima dua sosok itu berarti menerima kembalinya pelanggaran hak asasi manusia.

Tiga. Buat non-Muslim maupun Muslim yang percaya bahwa Indonesia seharusnya plural dan tidak diskriminatif, wacana yang dilancarkan PKS dan beberapa tokoh PAN pekan lalu sungguh tidak menyenangkan. Pekan lalu tokoh-tokoh PKS jelas menyatakan gusar karena Boediono tidak mewakili umat Islam (menurut pandangan mereka). Tapi, apa itu Islam bagi mereka? Agaknya,bagi PKS pekan lalu, seorang muslim yang saleh dan bersahaja belum cukup menjadi bagian dari umat Islam.

Seorang Boediono yang beribadah tanpa berteriak, tanpa dahi hitam atau janggut, tanpa istri banyak menjadi tidak cukup islami. Hanya anggota PKS barangkali yang islami. Maka ekonom Faisal Basri pun merasa bahwa Pak Boed dizalimi oleh tuduhan neoliberal dan tidak islami. Karena itu, ia bersedia memperpendek acaranya di Singapura dan menyusul ke Bandung untuk membacakan doa dalam “inisiasi” terhadap Pak Boed di Gedung Indonesia Menggugat. Tapi,persiapan Deklarasi “SBY Berbudi”menyebabkan kemacetan parah di Bandung.

Faisal pun turun dari mobil di ujung jalan untuk berlari mengejar waktu. Ia tetap terlambat sehingga doa dibacakan oleh Taufik Razen sebab Pak Boed harus segera bertemu SBY untuk persiapan Deklarasi. Malamnya deklarasi dibacakan. Dan PKS? Setelah pekan sebelumnya menggertak-gertak kini mereka tetap bagian dari koalisi “SBY Berbudi”.

Begitulah.Saya ikut naik kereta dengan rombongan Pak Boed ke Bandung. Tapi, sebagian kami tidak ikut Deklarasi dan pulang sendiri-sendiri. Buat saya, satu tahap terlalui dengan baik: Setidaknya ada pasangan presidenwakil yang tidak sekadar bagi-bagi kekuasaan atau berbercak darah. Tahap berikutnya menyediakan persoalan berikutnya.(*)

Ayu Utami
ayuutami@ayu utami.com

sistem ekonomi ala percakapan warteg

Apa sih neolib?

X : you kmaren simak berita gak? gua ilfil banget nih katanya presiden kita neolib ya?
Y: oh nonton sih, ah biasa lah itu politik, politik kan tembak tembakan, mo nembak dari sisi mana terserah anda, hehe.
X : lo kan belajar ekonomi ya, apa sih neolib itu? produk amerika ya? produk setan?
Y: mesti diluruskan, neolib itu setahu saya suatu faham sama halnya dengan marhaenisme soekarno, dan lain lain jadi bukan hanya untuk ekonomi saja orang suka campur campur kapitalisme neolib, amerika dan lain lain padahal itu beberapa entitas yang terpisah
X: duh itu apa lagi sih?, satu satu aja lah neolib itu apa sih?
Y : neolib mungkin yang orang mengerti tidak jelas, sebagian besar orang hanya membaca dari wikipedia, atau sumber sumber yang partisan dan parsial, tanpa mengerti apa philosophi dasar nya, sama halnya dengan sosialisme, marxisme, dll, liberalisme itu salah satu jalan menuju kemakmuran semua, hanya dalam perspektif yang lebih adil.
X : wapres kita ekonom ya, dia ikut ikut neolib?
Y : sebenernya neolib tidak pernah ada dalam sistem ekonomi manapun, ketika ekonomi disebut sistem, artinya ada sesuatu yang tidak berdasarkan pada mekanisme pasar per se. hampir 10 tahun saya belajar ekonomi, neolib tidak pernah menjadi mazhab resmi, yang ada ekonomi klasik dan neoklasik. Perlu dipahami ekonomi itu tidak statis, sangat dinamis, setidaknya sampai kini tidak banyak bukti valid yang mana yang paling benar, setiap sistem punya kelemahan dan kebaikan sendiri
X : bisa jelasin singkatnya gmana?
Y : mungkin simpelnya gini, ekonom klasik dan neo klasik percaya peran pemerintah yang seminimal mungkin, walaupun bukannya tidak ada, bastiat misalnya menolak peran pemerintah di pasar, tapi peran pemerintah tetap perlu di beberapa bidang. anti-thesis yang paling keras adalah sosialisme, tidak ada pasar, yang ada hanya perintah.
Y : oh ya perbedaan yang paling mendasar antara keduanya liberalisme menjunjung tinggi hak, tapi minimal kewajiban, sedang sosialisme menjunjung kewajiban mutlak, dengan hak individu yang minimal

Y : di ekonomi ada satu lagi mahzab, namanya keynesians, diambil dari ekonom dan matematician hebat J.M keynes, nah di ilmu ekonomi keynes dan ekonom klasik (dan varian keduanya) yang tetap hidup sampai kini, berdebat dan terus berkembang. Tidak ada yang namanya neolib atau apapun itu. Apalagi sosialisme, itu sudah mati sejak tahun 1990. Kenapa? karena ekonom melihat apa yang telah terjadi dengan negara negara dengan sosialisme paska jatuhnyaUSSR, ambruk, nyaris sekarat.

X: siapa lagi keynes ini?
Y: dia ekonom hebat, kritis karena pada saat ekonomi dunia krisis, ekonomi sulit untuk berkembang, patut dicatat dalam dalam, keynes tidak menolak Pasar!, keynes menilai perlu mekanisme tertentu agar supaya mekanisme pasar berjalan dengan semestinya. ini yang orang tidak juga mengerti.

X : gimana?
Y : coba analogikan dengan keluarga, bagi orang neoklasik biarkan saja anak anak anda berinteraksi dengan dunia luar secara bebas, jangan ada restriksi dan jangan kasih uang subsidi
, si anak dibiarkan bebas berekspresi, lambat laun anak itu akan belajar sendiri cara untuk hidup. Anak akan akhiranya mandiri, tapi tak terhitung beberapa kali dia harus jatuh dan bangun lagi. kapan kapan kita bahas baik buruknya ya..

X : kalo sosialisme?
Y : nah ini sebaliknya, anaknya diproteksi penuh, gak boleh interaksi dengan teman, tiap hari dicekokin bahwa dia anak hebat, semua maunya dikasih, tapi semua semua diatur, dari mau makan sampai buang air. Akibatnya karena terlalu diatur semua harus persis dan detail, ada takarannya masing masing. Kebayang gak kalo buang air ditakar? :)

X : keynes?
Y : nah keynes ditengah tengah, dia kayaknya orang tua yang cukup bijak, hehe

X: nah jagoan nih keynes, kenapa gak pilih keynes saja?
Y : wah belum tentu, gimana kalo anaknya banyak? orang tua itu akan sibuk sendiri
saking sibuknya bahkan gak bisa ngurus semua anaknya dengan semestinya, lama kelamaan dia akan lebih restriktif daripada distributif. Lebih repot lagi kalo orang tuanya gak bijak, dan berat sebelah, nanti ada yang terkorbankan, misal anak cewek sama anak cowok, anak ceweknya disuruh kawin muda, anak lakinya boleh sekolah, padahal anak ceweknya lebih pinter dari cowoknya. jadi sensitif sekali dengan preferensi orang tuanya. Anak yang dijadikan anak emas juga akan jadi malas dan lamban bahkan manja. Dalam sistem ekonomi negara ini masalah super-besar

X : waduh repot ya ternyata
Y : iya makanya jangan suka banyak komentar dulu kalo gak ngerti, minimal pelajari dulu

X : lalu kenapa orang banyak ngomong tentang sosialisme sekarang?
Y: Biasa orang kita suka terjebak romantisme sesaat, dan suka menilai sesuatu secara parsial, ekonom selalu percaya ada efek samping, namanya trade off, jika Pilih A dari B, maka selalu ada konsekuensinya dibanding pilih B dari A, dari sini kita mengukur pilihan kita.

X : jadi pilih capres yang baru deklarasi kemaren?
Y : saya ga ada urusan dengan capresnya, tapi cawapresnya memberikan statement teduh di hati ini, dia bilang " dia mau menggugat penjajahan baik dari luar negri...DAN DALAM NEGRI

X: maksudnya dalam negeri?
Y: di dalam negara ini terlalu banyak penjajah, yang selalu bilang "mana bisa" bukan "kita bisa"
yang slalu mengerdilkan negeri kita kecil, sempit, hina, miskin. Bodoh..itu lah kalo kita hanya macam kodok dalam tempurung, senangnya eksklusivisme.

X; siapa mereka?
Y : oh banyak, bahkan salah satu capres yang maju nanti sempat tertangkap kamera sewaktu ada diskusi dengan pengusaha dia bilang " rakyat kita itu penuh dengan kemiskinan dan kebodohan", miris saya dengarnya.

Sehari dengan teman fiktif (2)

Y: iya, lo mesti bisa bedain dong, mana pengangguran mana bukan, mana miskin mana bukan. mengukur itu mesti objektif, kalo cuma dengar dari koran kan ga selalu bener?
X : ya gua kan liat yang nyata nyata aja.
Y: betul, tapi kan juga mesti objektif, kalo cuma komentar kosong bisa jadi fitnah. Jadi gini, orang miskin dan pengangguran itu mesti dibedakan. Pengangguran, itu bisa jadi pilihan, dan miskin itu bukan selalu konsekuensi logis dari menganggur pengangguran itu kompleks loh bisa macem macem, so gak segampang lo ngomong di warung kopi.

Y : manusia hidup perlu uang, kalo dia leyeh leyeh tapi masih bisa idup berarti either jadi parasit or dia punya cukup uang tanpa kerja, artinya dia memilih untuk tidak kerja,
X : namanya pengangguran friksional ya?
Y : iya, mahasiswa yang nganggur itu pilihan namanya voluntary unemployment, menganggur
karena mereka mau kerja pake dasi, bukan jualan lotere, atau buka toko di tanah abang

X: terus kenapa banyak yang ga dapet kerja buat yang nyari?
Y: namanya juga kompetisi, ada yang kalah ada yang menang, ada yang dapet kerja ada yang masih mesti sabar nunggu sampe ada perusahaan yang narik. Asalkan ekonomi kita tumbuh terus kita gak terlalu khawatir, cuma memang semakin rigid gaji semakin susah lah perusahaan nambah pekerja ya gak?
Y : ini bukan masalah kapitalis, logika saja, kalo nambah terus pekerja emang nambah untung?nah kalo rugi gimana? bukannya makin banyak PHK jadinya?
Y: di negara negara komunis orang dilahirkan udah jadi pekerja, dia bakal kerja jadi buruh terus
seumur hidupnya, kerjanya bikin produk yang udah diset buat mereka, kayak robot. Kadang romantisme ini diikutin sama orang yang kerja di sektor buruh, padahal justru dengan sistem yang ada sekarang orang bisa jadi buruh di satu periode, tapi juga bisa jadi pemilik modal di periode berikutnya,

Y: people miss the forest for the trees, kadang orang lupa hal hal seperti itu, bahwa kita punya pilihan. Jadi lo pikir kalo sistem mana lebih baik?
X : gak tau ya..

Y: well kita bisa pilih yang ditengah tengah, pasar full berkuasa bisa baik, tapi kalo setengah setengah bisa amburadul, nah kondisi ekonomi kita selalu setengah setengah, ada yang korupsi, ada yang tajir banget sampe semua lini ekonomi dikuasai, nah untuk itu ada peran pemerintah sedikit, peran distributif namanya, pajak dan subsidi maen disini

X: nah itu pemerintah tanggung jawab dong..
Y: betul, tapi lo bayar pajak gak sih? kalo iya bayar berapa?
X: pajak penghasilan gua kayaknya dipotong, gak tau juga ya ga pernah cek
Y: nah itu lah, sebagian dari kita terlalu banyak nuntut, tapi partisipasi gak mau, masalah kemiskinan misalnya berapa sih uang yang lo kasih ke orang miskin tiap hari? Padahal pemerintah mesti bayarin PNS, bayarin pengeluaran ugal ugal-an DPR, pejabat, diplomat, dll

X: kan banyak dipake utang tuh? uang pajak kita?
Y: Yah nambah lagi deh idenya, utang itu mesti dibayar, masak mau ngemplang? semakin cepet dibayar semakin baik, biar gak nambah banyak, ya toh?
X: iya tapi katanya presiden kita ngutang terus toh?
Y : well utang itu membeli waktu, asal kita punya uang untuk bayar balik gak masalah, dulu kan maslahnya utang bisa, tapi bayarnya mikir nanti. Utang itu seperti kalo lo punya kartu kredit, terus mesti bayar kos-an akhir bulan, padahal gaji baru awal bulan. (1) Asal lo masih bisa bayar kan gak masalah? (2) yang penting utangnya dipake buat yang produktif, bikin jalan, bikin rumah sakit, dll.

X: maksudnya?
Y : Sama kayak lo pake kartu kredit lo, kartu kredit akan sangat berguna kalo gak kebablasan belanja, sama yang lo beli bisa lo gunain, gak langsung ilang gitu aja. contoh : beli pake kartu kredit untuk makan di starbucks atau untuk bayar sekolah anak? outputnya starbucks kan lo buang ke WC doang. Loe pikir kenapa banyak diskon kartu kredit buat hal hal ga produktif macam itu? itu loh yang beli satu dapet dua hheehe..

Sehari dengan teman fiktif (1)

suatu hari di warung kopi di sebuah kampung yang letaknya di jantung kota jakarta :

X : Pemerintah itu sama aja, presidennya lamban, negara kita merana terus
Y: eh, kenapa kok, tiba tiba jadi politikus? "sambil menyeruput teh panas yang gulanya terlampau kurang"

X : iya pengangguran dimana mana, kemiskinan merajalela, harga harga mahal, negara kita terpuruk, negara gagal!
Y: now now, jangan suka mangkel mangkel ga jelas lah, satu satu dong, emang pengangguran dimana mana ya? buktinya situ kok kerja? di tower tower tinggi pake dasi pula. Orang miskin yang mana sih yang lo maksud. kok kayaknya orang di kantor makan di tempat tempat mewah ga masalah tuh?

X: loh sampean ini gimana, kita harus liat lebih luas itu banyak orang miskin di jalan jalan,mahasiswa pada nganggur..ga liat?
Y: gini bung, kok ente liat orang miskin dari jalan jalan kota jakarta sih? ente tau gak pengeluaran di jakarta berapa? waktu gua baru lulus gaji gua yang beberapa juta aja gak cukup buat idup enak
X: nah iya, itu salah pemerintah dong..
Y: tunggu.. belum selesai nih, kalo orang yang lo sebut miskin itu memang miskin, bagaimana mereka bisa tinggal di jakarta? minimal mereka harus bisa idup dengan 1 juta rupiah lah
X: ya iya tuh kan susah banget idup mereka, miskin, minta minta, jadi hina bangsa kita..
Y: hmm, gini ya manusia itu punya pilihan, memilih selalu yang terbaik kan?nah kalo memang dia jadi peminta minta, dan itu terus menerus ia lakukan, kamu pikir itu mereka lebih milih jadi buruh yang gajinya 750 ribuan?

X : ya, makanya gaji buruhnya dinaikin dong
Y: duh satu satu dong kalo komentar, jadi sekarang lo bisa bedain gak miskin atau gak miskin?
X: he?

Faisal basri : Honest comment on Boediono

http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/

Sisi lain Pak Boed yang saya kenal
Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 - Dibaca 297 Kali -

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah … Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed.

saya tidak pernah berinteraksi langsung dengan pak Boed, tapi saya ingat, dulu sewaktu lulus kuliah, saya berpikir banyak untuk masuk BI, bukan apa apa gajinya lumayan buat kelas undergrad. Swaktu saya di perancis, teman dari BI datang untuk sebuah conference, waktu itu BI baru saja dipimpin boediono, dia bercerita skarang calon pekerja di BI digaji dengan nilai yang lebih rasional, dalam hati saya hanya bisa menebak mungkin pengaruh kesederhanaan boediono? tentu saja saya bisa salah, saya tidak tahu.

seperti bang faisal saya hanya bisa berucap " Maju terus Pak Boed"
tapi saya juga berdoa, smoga orang yang mencela anda dengan kata apapun tanpa alasan yang jelas di balas dengan setimpal dan seadil adilnya,Aminn..

Team Ekonomi prediksi awal

menebak tim ekonomi Indonesia ke depan

Menko ekuin : sri mulyani
Mendag : marie elka pangestu
Menperin : zulkifliemansyah
Menkeu : Faisal Basri
Kepala BKPM : M luthfi
Kepala Bappenas : chatib basri

Menkokesra : Bachtiar Chamsah
Menteri Sosial : Shohibul Imam
Menteri percepatan pembangunan indonesia timur : Irman Gusman
Menteri pertanian : Mustafa Abu bakar

Influential figure

This guy is amazing. he might be one of the next john bates medal, considering he is only 30 years old, he still has 9 years 11 months 29 days to create more influential articles. His PhD in harvard is about rethinking risk aversion measurement

last time I check he was still a prof in Berkeley, that was two months ago, he get a PhD in Harvard when he was 24, and now on the age of 30 he is a Prof in Harvard. He wrote papers like eating snack, get published in AER several times already in 2009. I can say no more.

Indonesian politics winner : Behavioral economist

Recent political movement in Jakarta, here and here The fact that SBY, JK, and MS is giving an essential proof of prospect theory . Democrat Party as the incumbent strongly hesitates in choosing VP for SBY, JK is doubtful due to its political manouver recently, not to mention "the Bakrie's connection effect", it is risky for SBY to "gamble"on these two names, since lot's of people despises these conglomerates condemning them being voraciously use their political position in expanding their Business. While JK and MS seems not to care too much on their images (well, if any..) the two are now closely intact, while both golkar and PDIP have always been in cold war eversince the new era.

prospect theory predicts that people in good condition tends to be risk averse, and people in bad condition tend to be risk neutral/less risk averse. SBY as the incumbent supported by the winning party on legislative election is in a good mood, while JK and MS are on a desperate mood.

the long and winding road..

I had a seminar with Prof.Paserman from Boston University today, and I was just amazed by his ability to exploit data in empirical work on labour and migration. And so I decided to google his name in case something interesting come up. And there it is something funny, unthinkable, as well as encouraging for me.

the full paper is here

Mercury free gold Mining

I ran across this video on youtube




its about the danger of gold mining using mercury, for me its a surprising as well as intriguing fact
that government action hardly had any effect in prohibiting the use of mercury.

State bans on mercury use is not the answer, people need simply an alternative. Why people can't understand this simple fact?. We made progress on making abandoning fuel subsidy, but still we use such primitive coercion power on mercury bans?

the ministry of environment put a disappointing point while saying that they already put some pressures on large miners about the use of mercury by the state of law. Actually what trouble me the most is the small gold miners, who's digging gold from the pond of mercury left by the old gold miners. why? first because these workers has hardly enough benefit from gold extracting, second, nevertheless they face larger danger on mercury exposure.

In addition people working with the large gold miners could afford for health care and pension funds, and how about these poor people excavating gold using mercury on their bare hands?

I wonder when people might mass produce these kind of alternatives? or this with the great need of substitution goods , and the amount of money invested in gold excavation, may be some researcher from the BPPT could get some money by buying this and put it in mass production?

or may be they did it already,get bored and just too busy to invent some more cool and fancy stuff? and forgot to mass produce?

Long Hiatus to come

I might close this blog for a while.

many things happened these days

I just need to focus my mind

Thank you all for Reading and commenting

May god Bless you all.

Amin.

Rajawalimuda

don't blame it all to globalization

I really do admire Him, his work about transaction cost in sugar farmers in my opinion is quite influential. However I doubt his conclusion here is valid, as Bardhan argued here. Saying the quality of growth is better when less parts of economy liberalized (from the text; translated) I think in some sense misleading, the quality of growth and labor-growth elasticities is too large to be explain by a single variable (globalization), even his colleagues mentioned it years ago, with more detailed versions of possible reasonings.

unemployments and unequal distribution of wealth problem should not make us blaming the rich, Being rich is not a sin, but yes, something need to be done, we can not let the poor trap in poverty but how? not by blaming globalization for sure. Investors in the millenium era will not invest their money on labor-intensive products, instead on products with capital intensive industries with high demand in high skilled workers. That's a solid fact, and to be able to get higher labor-growth elasticities we need more flexibility in job market and more skilled labor.

The world is moving on, and so should we. weisbrod et.al (2007) shows that people moving on from agricultural activities to non-farm work will generally able to move out of poverty, the answer of poverty and wealth distribution in my opinion is not by forcing back young indonesian to farming activities with government subsidies, if they wanted to be a farmer that's fine, but not because government makes them richer than they should have been. Because it distorts occupational choice, and it won't be able to break intergenerational wealth transmission.

who really are the unemployed? young-urban women, we need to make them able to compete in the job market. Human capital training, though will take time to harvest, seems to be highly beneficial. It is interesting to mention that in the article the informal sector seem to be regarded as "bad omen", in fact it contributes largely to the urban working woman.

The limited jobs in formal sectors is only one factor of the thriving informal sectors, another reason is that simply it is profitable to work in informal sectors. The problem of informal sector is the high risks attached and possibilities of working children, however in the contrary it works very well in alleviating poverty for young urban residents. Working in formal sectors doesn't mean having better condition than the informal ones; and there is no high correlation with poverty. In fact the poor (in Indonesia ) is the one who do work in formal sectors.

China and India, the two countries with large growth as mentioned in the article do have large inequalities, it's a transition period, as inequalities will strive in lower level of development, as time goes by, and when people are adjusting, I think this inequalities should goes down.

as a book said about china economy :

"getting rich first"

Making people to work, is not the same by forcing them to work in our preferable professionbut by giving them possibilities to move on, to generate higher returns in the future. Such as better public education and health services provision. The rest will depend on their free-will.

a self interest benevolence

Being blustered around by all this talking about ultra-nationalist hardcore, who thinks tackling foreign capital and investment, and confiscating foreign ownership, making it government owned companies are the solution for our country. Yes, the one and only, our dear CAPRES 2009 (mr. You-know-who). They seems to talk about asset accumulation, selling cheap ideas, that having such assets in government hand will make poor people better off.

let see, when Indosat (the one mr.You-know-who always bragging about) was in our hands, do poor people get benefit from that? when Pertamina got rich do poor people will directly increase their welfare? a clue, NO.

but hey, when Indosat got privatized, what had happened? the cost of calling people suddenly drop, Telkomsel was forced to pull some strings too on their profit. Good thing for the less fortunate people huh? of course not for the richer ones, they lost lots of profit from Indosat selling. but hey for now we get cheaper price, but unfortunately crappy quality as well. Need more option in the market though, Big players such asTelkomsel and Indosat might need a better competitor in the future. So we can get better provider, with cheaper services.

Back to assets, I am really not an expert in this, and I am not writing this to show that I am having some kind of renaissance in religious thinking. I just think this is a good idea to distribute assets and more opportunities and empowerment to the poor, yes its about assets, just less "ekonomi rakyat", or "komprador", or anti "neoliberal" label in it.

mind you, but the only one who getting rich has always been the one with greater access to the power, and hence I don't really think having assets like Indosat, caltex, (or whatsoever the target of the you-know-who) might benefit the poor. Instead the poor will still be marginalized by our bureaucratic systems.

If you consider yourself nationalists you might consider to contribute to this or this. its all about a collective action in providing public services. No unlawful confiscating asset needed, just a simple philanthropy. Remember that Adam smith, the father of economics, strongly advise small government, but he himself regard benevolence as a supreme virtue. A free will based benevolence, a self-interest benevolence.

Ayo Indonesia !

I must in some sense agree with yusuf kalla. our economy is growing 6 percent, while others on the verge of breaking down. In this case the government's economic ministers must be given some credit. SBY and JK, despite of many blunders they have made, in some point have courageously shown their plan in putting away our nation dependence on oil source-fuel. This is as well need to be given extra credit, while all other preceding presidents have no guts to do.

Our nation is evolving, and criticism from fellow economists is good, as long as it is not intended for political purposes.

it is easy to distinguish political criticism, First, it is almost always come from the same groups/political party/ and politicians. Second, these critics seems to be related with normative terms than empirical studies. Third, most of this politician only say what people want to hear, and never ever do the opposite.

Satu tulisan kompas yang menyedihkan

Ini adalah tipikal tulisan konspirasi. Suatu artikel yang menyedihkan karena (1) tidak dilandasi bukti empiris yang kuat, (2)satu satunya referensi adalah tulisan dari sebuah buku, dan (3) cara pengambilan kesimpulan yang tidak objektif. Tulisan seperti ini jelas tidak layak masuk kompas. Bahkan untuk edisi online nya yang kian hari kian menyerupai kembaran detik.com. Menyamakan kebijakan SAP IMF dengan perdagangan global adalah menyesatkan. Penulis menyatukan berbagai macam informasi yang ada, kemudian merangkai menjadi sebuah tulisan yang entah suatu hasil investigasi yang lengkap atau tidak.

artikel ini juga menyesatkan karena ;

pertama, IMF bukan representasi perdagangan global, entah apa justifikasinya perdagangan global direduksi menjadi satu institusi keuangan internasional. Pernahkah ada teori yang menyatakan begitu? perdagangan bebas adalah IMF? saya yakin tidak. Jikalau artikel ini hendak menyerang SAP IMF, maka objek serangan adalah IMF, bukan perdagangan bebas.
Kedua, justru sistem subsidi di eropa barat untuk petani nya yang membuat investasi pertanian di negara berkembang terhambat, (1) karena negara berkembang tidak diijinkan menjual hasil pangan sesuai dengan harga keekonomiannya, subsidi di eropa dan amerika mengkamuflase harga, dan membuat investasi tidak berkembang. (2) Ada kuota tertentu dalam pengiriman barang pertanian. artinya ada dua pembatasan, baik dari harga maupun kuantitas.
contoh negara haiti misalnya, yang ditekankan adalah IMF memotong tariff, padahal memotong tariff akan membuat penduduk akan mendapatkan harga beras yang murah dengan kuantitas yang lebih banyak. jadi pemotongan tariff bukan lah masalahnya, tapi subsidi di amerika dan eropa yang membuat padi non-organik mereka lebih murah. Tentu sisi buruk subsidi ini tidak dibahas di artikel yang tidak objektif seperti ini, yang dilihat hanya sisi yang bisa membantu anti-tesis nya terhadap perdagangan bebas.
Ketiga, artikel ini juga mengesampingkan efek lain yang menyebabkan kenaikan harga pangan, seolah olah kenaikan harga pangan hanya dipicu oleh kebijakan salah dari IMF. Kenaikan harga minyak, dan fakta bahwa semakin banyak penduduk dunia yang mengkonsumsi daging dan oleh karenanya meningkatnya konsumsi pakan ternak juga adalah faktor signifikan yang secara sengaja disembunyikan dari pembaca. Satu tipikal tulisan kelas tabloid yang tidak objektif, ditulis demi melonjaknya tiras dan jumlah pembaca.
Keempat, meningkatnya produksi crops (bahan pangan yang bisa dijual) dan menurunnya produksi staple foods di negara negara afrika juga hanya dilihat dari sudut pandang yang sempit. Petani bergerak berdasarkan insentif, ketika harga barang pangan ditekan, sedangkan harga crops menjulang, tentu mereka akan memproduksi crops. Kunci disini adalah ketersediaan pasar untuk menjual crops tersebut. Keterbukaan pasar membuat mereka bisa mengalokasikan sebagian produksinya kepada bahan pangan yang menghasilkan uang, di sisi lain petani tidak memiliki insentif untuk meningkatkan produksi staple foods, karena tidak ada pasar disini. Pembeli dan penjual tidak bebas menjual hasil produksinya. Yang berbahaya adalah ketika kedua pasar tidak berjalan, petani akan menuju ke arah produksi yang self-subsistence dan produktivitas menurun tajam.

Investasi terhadap bahan pangan memang seharusnya dilakukan, tapi savings dan investasi tidak harus dilakukan oleh pemerintah, swasta harus diikut sertakan, Kebijakan pembatasan impor dan intervensi harga juga akan menggiring ke arah yang salah di kemudian hari.

Menyedihkan karena smua kata kata artikel ini akan ditelan bulat bulat bagi pembaca kompas dimanapun berada, dan kompas sebagai pendistribusi informasi bertanggung jawab penuh atasnya. Hanya untuk seonggok tiras, informasi dibelokkan sedemikian rupa.

Organda tak pernah bermutu!

Lagi lagi ocehan lama , kapan ya organda akan dewasa? bertahun disusui, masih saja merengek rengek setelah "disapih" minta lagi disusui, sedihnya para petualang politik "standar" di pucuk sana akan cari kesempatan simpati dengan bilang wah, iya nih pertamina korupsi, negara kita neolib, turunkan sby, bla bla bla.. sama seperti ketika harga BBM dinaikan.

dan masih kah rakyat kita mendengar ocehan retorik ini? bisa jadi.

kalo kita menilik fenomena lebih jernih, sebenarnya apa masalahnya disini?

kita review faktanya : bis antar negara malaysia lebih murah, sedangkan bis kita lebih mahal, Penumpang adalah pekerja indonesia yang tingkat pendapatannya rendah. sekarang masalahnya adalah para pengusaha organda gak mau ilang untung, mereka gak mau bis malaysia ngambil semua sumber uangnya, tanpa memikirkan jalan lain mereka minta harga BBM nya di subsidi.

catatan : (1)Bahkan dengan subsidi pun disparitas harga masih tinggi antara malaysia dan bis organda (2) Dengan hanya terdiri dari tiga perusahaan bis organda jelas monopoli atau oligopoli, yang mempermainkan harga dan kualitas pelayanan bagi para pekerja berpendapatan rendah.

jikalau para politikus itu mendukung para pencari rente ini, maka apakah mereka membela rakyat? tentu tidak, siapa yang dibela? pengusaha yang memaksa harga tinggi. Tidak perduli apakah itu bis berbendera malaysia atau israel sekalipun, asalkan mereka menawarkan harga lebih rendah jelas akan lebih baik bagi pekerja miskin daripada berbendera indonesia dengan harga mencekik.

Biarkan saja lah pengusaha itu bersaing secara sehat, pengusaha punya akses terhadap uang dan fasilitas, asalkan tidak manja seharusnya mereka mesti melakukan terobosan, apalah itu yang bisa membuat pasar menjadi monopolistik, membuat mereka menjadi unik. Bukannya merngek memohon uang pemerintah. Malah menuduh pertamina cari untung, kalo pertamina dapat untung baik dong buat budget pemerintah? cuma tiga pengusaha bis ini yang rugi, mesti kerja lebih keras.

jika mereka disubsidi lagi, ada dua kerugian, pertama pemerintah mesti ngasih duit ke mereka (dalam bentuk subsidi) duit pemerintah buat yang keperluan lain terpakai. Untuk siapa? untuk organda tak bermutu! untuk organda ini pemerintah harus rela kekurangan duit untuk infrastruktur dan beasiswa pendidikan, sungguh tak masuk logika orang yang membela para pengusaha malas ini.

ide muluk dan basi AR

Another so called great idea of AR,

(1) ekonomi rakyat vs ekonomi pasar,
(yeah right, just go home and rest..ide ide anti-kolonial ini udah basi, berdebu dan sumpek. Ngerti ekonomi pasar aja nggak, sok sok ngomong ekonomi rakyat, apa sih ekonomi rakyat?

apaa ituuuu ekonomi rakyaaatttttt???

knapa ekonomi pasar berlawanan ekonomi rakyat?

btw, sejak kapan negara kita adopsi ekonomi pasar? apa karena harga BBM gak disubsidi? apa karena kita berdagang dengan negara lain? the fact that the state still subsidize many things, and BUMN people is still running around on the market, or when we are still paying for the DPR bills (and of course was his bills) then we are not on the free-market economy!, which is not our goal by the way, however competitive market is. not free market per se! jikalau saudara AR lebih jeli, seharusnya tau apa itu definisi ekonomi pasar, atau setidaknya tidak mengumbar umbar kalimat yang tidak dia mengerti.

Sebagai orang tua saudara AR sebaiknya melihat lebih jernih dan bijak, lihat lah sesuatu dari sisi yang berbeda, baru ambil kesimpulan. Sayangnya saudara AR dkk terlalu mabuk dengan ketokohannya, dan hanya mendengar orang yang selalu setuju dengannya. Seperti halnya ketiga tokoh presiden sebelum SBY.

(2) tidak memiliki mental bangsa asing superior, lah sapa ya yang punya pikiran ini?, memiliki anti-bangsa asing superior bukan berarti bangsa asing itu musuh toh? imperialisme, sekrup, kacung, apa lah istilahnya, kan istilah anda juga bung AR, sekarang jaman negara negara kerja sama, ini malah pengen menutup diri, makin ketinggalan toh, mana tuh yang punya visi ke depan? saya juga bisa kasih saran, liat bangsa lain itu sebagai sesama manusia, bukan musuh jaman perang.

(3) menegosiasi ulang kontrak migas, ok trus, apa? ujung ujung nya kan cita -citanya mau macem fadjroel rachman yang nasionalisasi aset? jaman 1945-an aja sampe sekarang aset belanda yang dinasionalisasi masih jadi masalah besar buat kita, BUMN kita yang produktif dan efisien cuma segelintir, trus sekarang mau ngambil semua aset yang ada biar dikelola pemerintah? pertamina ngurus gas aja berabe, ini mo dikasi blok blok lain? Yah ambil aja deh bung fadjroel, ambroel udah negara kita ntar.

kalo rakyat indonesia aja bosan dengan retorika SBY sekarang, apa masih bisa nerima komentar komentar retorik macam begini? blom lagi ocehan sarumpaet yang ngaco naujubilah..blah smoga aja presiden taun depan gak kayak begini begini..

Capres 2009

Senang nonton dan baca tulisan ini.

betul banget omonganya tulisan ini, dua capres terakhir di liputan 6 cuma Napsu ingin tenar modal omong kosong..

Sarumpaet kelaut ajeee...

Intermezzo on one of these hectic days

Been busy with my so called memoire and I stumbled upon this guy, wow, his works are always amazing, at least for me I can't resist to "blogmarks" it here. one recent paper discussed in Rodrik's Blog, yeah! even he, got impressed. Very interesting indeed...

update : oil price is skyrocketing, 144 USD/barrel, yeah and those guys in Senayan are still acting Mr.Right for the sake of political expected return in 2009. what a crap.

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger