Showing posts with label economic development. Show all posts
Showing posts with label economic development. Show all posts

Pro-rakyat vs Ekonomi kerakyatan , benarkah neolib setan?

Pemilu Pilpres kali ini memang luar biasa, perdebatan baik yang produktif dan tidak produktif mendominasi media masa dari Koran hingga facebook, topiknya pun bervariasi dari perdebatan agama hingga hankam. Temanya pun selalu menarik walaupun kadang tidak substantif.

Di ekonomi, debat yang menyita tenaga dan cenderung mempertunjukan egoisme adalah kerakyatan vs neolib a.k.a saling tunjuk dan saling klaim menjadi "angels and demons". Padahal perdebatan ini tidak pernah ada di literatur ekonomi, bahkan kedua term ini cenderung tidak jelas kelaminnya. Term washington consensus dilahirkan oleh Williamson yang menyarankan beberapa poin penting demi menyelamatkan kolaps nya perekonomian negara amerika latin, intinya adalah penghematan pengeluaran pemerintah, pengurangan beban dari BUMN yang tidak produktif, dan perbaikan kebijakan moneter yang menjamin tersedianya modal bagi ekonomi, yakni investasi dan pasar modal. Term ini yang "disalah gunakan" oleh para politisi untuk menghasilkan term neolib.

Washington consensus sendiri ditujukan bagi negara yang sedang gonjang ganjing dan nyaris bangkrut, seperti yang dikatakan williamson sendiri, washington consensus adalah anjuran bagi perbaikan kesehatan ekonomi, sama sekali bukan meminimalkan peran negara dalam semua lini,tetap masih ada peran negara yang proporsional. Dalam keadaan negara terbelenggu hutang dan paceklik pendapatan seperti negara latin, adalah wajar jika anjurannya adalah untuk berhemat.

Washington consensus adalah saran pilihan kebijakan yang sama sekali berbeda dengan neolib yang lebih ke tataran "konsep" individualisme, kebebasan individu, dan hak milik. Neolib adalah konsep bahwa individu bertanggung jawab atas miliknya sendiri, dan negara tidak berhak ikut campur untuk mengatur individu.

permasalahan mendasar dari segala kerumitan ini adalah, kita pernah mengalami mimpi buruk di kala krisis, IMF yang bertugas membantu menyehatkan perekonomian
sedikit "khilaf" dalam mengeneralisasi masalah. Sebenarnya kebijakan apapun pasti menghasilkan konsekuensi, sayangnya biaya yang dibayar dikala itu menjadi terlalu besar.Ibaratnya ketika tubuh didiagnosa diabetes akut, dan amputasi menjadi saran , sedangkan si dokter tidak menganalisa efek psikologis yang timbul ex-post si pasien menjadi suka mabuk mabukan dan stress, akibatnya kesehatan pun menurun drastis. Padahal jika saja amputasi tidak dijalankan segera, kesehatan si pasien juga tidak terlanjur baik, bahkan vulnerable, karena diabetes akut akan sulit menyembuhkan luka, tertusuk duri saja resiko nya bisa maksimal.

Seperti analogi dilema dokter diatas, permasalahannya adalah tidak terintegrasinya unit pemulihan dan unit reaksi cepat, kemampuan untuk mengatasi efek negatif dari kebijakan struktural di atas. Ini yang rodrik (Prof Ekonomi Harvard) analogikan sebagai "institution", bagaimana sebuah negara mampu mengatasi konflik sosial yang (mungkin) terjadi ketika negara terpaksa tidak mampu lagi menanggung beban yang kian berat. Rodrik lebih lanjut menawarkan konsep "augmented washington consensus", yang merupakan kebijakan makroekonomi yang didukung dengan kemampuan redistribusi pemerintah ke bagian dari warga negara yang akan paling rentan terpukul. Semakin baik kebijakan redistributif pemerintah semakin mampu pemerintah fleksibel dalam mengatur perannya dalam perekonomian.

Bagaimana dengan Indonesia? saya merasa lebih tepat negara kita sudah melangkah lebih maju dalam mendekati konsep Dani Rodrik, kebijakan anti korupsi,dan berbagai konsep redistribusi sudah di jalur yang benar,perlu perbaikan? tentu saja.

orang orang yang senang memaki neolib dengan pemahaman terbatasnya mencampur adukan kapitalisme,liberalisme,Hutang-isme melawan Nasionalisme,Sosialisme, kerakyatan-isme dan segala tetek bengek isme isme yang tidak aplikatif dan jargon semu.

Ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian dianggap seperti (calon) malaikat,padahal konsep ini mengandung resiko besar. Ketika semua beban ditanggung negara, negara akan secara subjektif memilih beban mana yang akan ia tanggung, lebih buruk lagi sebagai alternatif ketika semua beban sedemikian berat hingga negara itu jatuh,terpuruk dan tak mampu bangkit lagi.

"sistem ekonomi yang baru" ini penuh mimpi indah yang membuat orang lupa satu hal,satu mimpi buruk yang selalu menjadi momok bagi para ekonom : -inflasi- pajak yang tidak pandang bulu, bahkan cenderung lebih besar pada yang miskin di banding yang kaya. Omong kosong jika seseorang yang beretorika pro-miskin dan pro-rakyat jika di setiap pidatonya tidak disebut sebut bahaya inflasi. Inflasi tidak hanya membuat orang menjadi makin miskin dari waktu ke waktu, tapi kebijakan distributif pemerintah juga menjadi tidak efektif dan hanya memperparah masalah. Berapapun uang yang dihamburkan ke nelayan dan petani tidak akan efektif selama harga beras dan minyak tidak stabil.

yang lucu, ada pasangan cawapres dan capres yang katanya pro rakyat tidak mengerti masalah ini. (1) menolak BLT yang katanya hanya permen, (2) menolak modal asing katanya hanya hot money, (3)ekonomi kerakyatan yang hanya nelayan dan petani

BLT itu hak warga negara miskin, dan cermin redistribusi pemerintah, Modal asing itu penting buat stabilisasi nilai tukar dan inflasi, Sedangkan kebijakan yang hanya memikirkan harga beras naik, bukan hanya tidak efektif buat para petani, tapi juga menambah rakyat miskin (petani dan non petani) semakin banyak karena inflasi yang selalu seiring dengan harga bahan pokok.

menarik,sekarang orang bebas memperdebatkan isu isu sensitif dan "ide ide besar". Yang memprihatinkan sebenarnya bukan perdebatannya, tapi "ilmu berdebat" dan pengertian tentang esensi apa yang diperdebatkan.

Seperti halnya menonton film "Angels and Demons", akan lebih baik kita melihat di sisi yang lebih luas tanpa menilai mana yang "demons" mana yang "angels", mari menilai dari mata yng jernih,maka kebenaran akan menampakkan dirinya dalam waktu dekat karena kebenaran itu tidak memihak.

Wawancara yang membuat mendung

Matahari masih bersinar terang di musim panas di Roma sore itu, tapi mendung nampaknya bakal terus menghantui Indonesia. Dari siaran tunda youtube seorang cawapres baru saja di sebuah stasiun swasta berkoar dengan jargon ekonominya penuh semangat, tampak sedikit frustasi dan dengan penuh percaya diri menunjuk angka angka sunyi di setumpuk kertas yang ia bawa.

Sayang seribu sayang, angka angka itu tidak hanya sunyi,tapi juga bisu, seandainya angka angka itu bisa bicara,mereka akan tertawa dan berteriak protes tak kalah penuh semangat. Seorang cawapres yang katanya jika menang akan membawa Indonesia meraih 12 persen pertumbuhan ekonomi, seorang pengusaha kaya, seorang yang pernah bersinar terang di karir militer, sekarang dengan mudahnya ditertawakan oleh angka angka.

betapa tidak? saya saja yang sedang belajar ekonomi haqul yakin kalo cawapres ini keliru. saya bahkan tak sanggup tertawa, hanya melongo,sedikit tidak percaya. Bukankah ada tim ekonomi yang harusnya "mendikte" apa yang mesti dibicarakan?

titik pertama kemelongo-an saya adalah ketika cawapres ini menunjuk pada angka impor-ekspor, yang katanya selalu positif, sedangkan cadangan devisa kita yang tidak kemana mana. Masa tidak ada yang jelaskan pada beliau kalo yang dia tunjuk itu "current account", bukan "balance of payment", mungkin dia mau merujuk pada capital account kita ketika dia menyebut dana kita lari keluar negeri. well dia mesti tanya pada temannya sarjana akuntansi, apa arti balance, dan tanya ke ahli ekonomi publik kenapa balance of payment selalu diupayakan berimbang. oh ya tanya juga pada obama, kenapa ketika current account nya amerika selalu negatif, mereka tetap adem ayem? Saya gak percaya dengan menjadi pengusaha yang ekstraktif melulu beliau bisa mandi uang kayak paman gober, tidak mungkin di balance of paymentnya beliau tidak ada duit yang dia simpen di tempat lain. Nah ini kan namanya lempar batu sembunyi tangan.

kemelongo-an saya kedua ketika dia bicara tentang growth, yang dicampur campur dengan elastisitas pengangguran. Pengertian saya tentang growth, pertumbuhan, adalah ketika faktor pendukung "tumbuh" lebih baik daripada faktor perusak. Ekonomi akan tumbuh ketika kapital tumbuh lebih cepat daripada tumbuhnya tenaga kerja dan kualitas tenaga kerja.

"Tumbuh" tidak hanya berarti "menambah kuantitas" barang modal dan produksi, karena juga berarti "kualitas". Kuantitas akan menukik turun karena tambahan return yang dibutuhkan barang modal semakin berkurang. Tumbuh berarti, tambahan modal harus lebih dari menutupi biaya untuk mengganti modal yang sudah obsolete, mengganti biaya pembentukan pabrik pabrik baru untuk pekerja baru, dan mengganti biaya menyediakan "new tools" untuk para "new breed of workers", yang kebetulan memiliki skill yang berbeda dari generasi sebelumnya. Nah rencana cawapres ini adalah membuat growth 12 persen dengan membongkar hutan hutan di kalimantan dan papua untuk membuat untuk lahan pertanian, yang katanya kita masih punya keunggulan komparatif.

satu, pak cawapres mesti baca paper dari jagdish bhagwati yang merujuk pada "immiserizing growth", growth yang membuat sengsara. Membangun negara dengan dasar pertanian yang membabi buta akan mengurangi kemampuan negara ini berkompetisi. Di kala negara lain menjual chips komputer,video game, pesawat hercules dan sukhoi kita akan menjual beras, jagung dan ketan. Sayangnya kemampuan manusia makan terbatas,banyaknya uang tidak serta merta membuat kita makan jagung lebih banyak. Akibatnya kita menjual barang yang secara rata rata nilainya lebih rendah daripada barang modal,jika kita berdagang kita akan rugi.

kedua, generasi yang ada sekarang punya karakter yang berbeda dari generasi jaman pak harto dulu, jumlah tenaga kerja terdidik semakin meningkat,mustahil mewajibkan mereka menjadi "romusha", orang sekarang bebas memilih lapangan kerja nya sendiri. Seorang lulusan akademi perbankan misalnya, tidak serta merta akan bersedia bekerja di pertanian atau pekerjaan ekstraktif lainnya, seorang doktor ilmu pertanian akan lebih berguna jika disediakan balai pelatihan yang mumpuni, yang solusinya bukan saja dengan membuka lahan. Fokus di pertanian bisa,tapi tolong kualitas growthnya jangan dilupakan, tentu saja jangan terlalu banyak bongkar hutan, kasian anak anak kita nanti bernapas aja susah.

ketiga, apa otonomi daerah dipandang omong kosong? hendak kembalikah kita ke jaman
ekonomi terpimpin, yang semua orang didikte untuk membuat produk, menjual barang yang negara inginkan? apakah kita akan kembali ke era bupati bupati menjilat pantat eksekutif tanpa perduli pendapat rakyatnya lagi?

keempat, saya suka bingung dengan komentar para cawapres dan capres yang menyerang kebijakan neolib, disangkut pautkan dengan pasar modal. Pasar modal katanya setan amerika, sedangkan pertanian adalah sektor yang memenuhi asas kekeluargaan dan gotong royong. Fokus pada industri ekstraktif pertanian bakal menarik para pekerja di sektor jasa yang malah akan membuat sektor finansial kita semakin terpuruk. Susah kalo orang hanya membayangkan pemulung,pekerja kasar dan penjual tanah abang ketika menyebut rakyat. Apa para pekerja di sudirman itu bukan rakyat? pekerja pekerja berdasi itu bukan rakyat?

kemelongo-an saya yang ketiga ketika sang pewawancara panda nababan bertanya "selama ini bapak kan teori teori saja, tidak ada implementasinya" sang cawapres segera membantah, saya setuju,tolong jelaskan teori yang mana saudara panda nababan?

saya melihat cawapres ini seperti anak kecil yang melihat ibunya membuat kue, dengan alam fantasi kanak kanaknya, cita citanya adalah membuat kue raksasa sebesar rumah,sayang dia tidak mengerti esensinya membuat kue. Pengambil kebijakan publik itu seperti pembuat kue, yang penting bukan besarnya kue, tapi bagaimana racikan adonan, kekuatan mengocok, dan lamanya menyimpan dioven bisa membuat adonan "mengembang" sedemikian rupa, tapi juga mesti hati hati jangan sampai gelembung kue itu tidak pecah di mukanya sendiri.

Mungkin cawapres ini mesti baca tulisan teguh dartanto di tempo, yang mengkritik lemahnya janji surga politikus, smoga saja dia akhirnya bisa menertawakan dirinya sendiri.

young, genius and full confidence

one of the women I admire in my life

Indonesian politics winner : Behavioral economist

Recent political movement in Jakarta, here and here The fact that SBY, JK, and MS is giving an essential proof of prospect theory . Democrat Party as the incumbent strongly hesitates in choosing VP for SBY, JK is doubtful due to its political manouver recently, not to mention "the Bakrie's connection effect", it is risky for SBY to "gamble"on these two names, since lot's of people despises these conglomerates condemning them being voraciously use their political position in expanding their Business. While JK and MS seems not to care too much on their images (well, if any..) the two are now closely intact, while both golkar and PDIP have always been in cold war eversince the new era.

prospect theory predicts that people in good condition tends to be risk averse, and people in bad condition tend to be risk neutral/less risk averse. SBY as the incumbent supported by the winning party on legislative election is in a good mood, while JK and MS are on a desperate mood.

Mercury free gold Mining

I ran across this video on youtube




its about the danger of gold mining using mercury, for me its a surprising as well as intriguing fact
that government action hardly had any effect in prohibiting the use of mercury.

State bans on mercury use is not the answer, people need simply an alternative. Why people can't understand this simple fact?. We made progress on making abandoning fuel subsidy, but still we use such primitive coercion power on mercury bans?

the ministry of environment put a disappointing point while saying that they already put some pressures on large miners about the use of mercury by the state of law. Actually what trouble me the most is the small gold miners, who's digging gold from the pond of mercury left by the old gold miners. why? first because these workers has hardly enough benefit from gold extracting, second, nevertheless they face larger danger on mercury exposure.

In addition people working with the large gold miners could afford for health care and pension funds, and how about these poor people excavating gold using mercury on their bare hands?

I wonder when people might mass produce these kind of alternatives? or this with the great need of substitution goods , and the amount of money invested in gold excavation, may be some researcher from the BPPT could get some money by buying this and put it in mass production?

or may be they did it already,get bored and just too busy to invent some more cool and fancy stuff? and forgot to mass produce?

don't blame it all to globalization

I really do admire Him, his work about transaction cost in sugar farmers in my opinion is quite influential. However I doubt his conclusion here is valid, as Bardhan argued here. Saying the quality of growth is better when less parts of economy liberalized (from the text; translated) I think in some sense misleading, the quality of growth and labor-growth elasticities is too large to be explain by a single variable (globalization), even his colleagues mentioned it years ago, with more detailed versions of possible reasonings.

unemployments and unequal distribution of wealth problem should not make us blaming the rich, Being rich is not a sin, but yes, something need to be done, we can not let the poor trap in poverty but how? not by blaming globalization for sure. Investors in the millenium era will not invest their money on labor-intensive products, instead on products with capital intensive industries with high demand in high skilled workers. That's a solid fact, and to be able to get higher labor-growth elasticities we need more flexibility in job market and more skilled labor.

The world is moving on, and so should we. weisbrod et.al (2007) shows that people moving on from agricultural activities to non-farm work will generally able to move out of poverty, the answer of poverty and wealth distribution in my opinion is not by forcing back young indonesian to farming activities with government subsidies, if they wanted to be a farmer that's fine, but not because government makes them richer than they should have been. Because it distorts occupational choice, and it won't be able to break intergenerational wealth transmission.

who really are the unemployed? young-urban women, we need to make them able to compete in the job market. Human capital training, though will take time to harvest, seems to be highly beneficial. It is interesting to mention that in the article the informal sector seem to be regarded as "bad omen", in fact it contributes largely to the urban working woman.

The limited jobs in formal sectors is only one factor of the thriving informal sectors, another reason is that simply it is profitable to work in informal sectors. The problem of informal sector is the high risks attached and possibilities of working children, however in the contrary it works very well in alleviating poverty for young urban residents. Working in formal sectors doesn't mean having better condition than the informal ones; and there is no high correlation with poverty. In fact the poor (in Indonesia ) is the one who do work in formal sectors.

China and India, the two countries with large growth as mentioned in the article do have large inequalities, it's a transition period, as inequalities will strive in lower level of development, as time goes by, and when people are adjusting, I think this inequalities should goes down.

as a book said about china economy :

"getting rich first"

Making people to work, is not the same by forcing them to work in our preferable professionbut by giving them possibilities to move on, to generate higher returns in the future. Such as better public education and health services provision. The rest will depend on their free-will.

a self interest benevolence

Being blustered around by all this talking about ultra-nationalist hardcore, who thinks tackling foreign capital and investment, and confiscating foreign ownership, making it government owned companies are the solution for our country. Yes, the one and only, our dear CAPRES 2009 (mr. You-know-who). They seems to talk about asset accumulation, selling cheap ideas, that having such assets in government hand will make poor people better off.

let see, when Indosat (the one mr.You-know-who always bragging about) was in our hands, do poor people get benefit from that? when Pertamina got rich do poor people will directly increase their welfare? a clue, NO.

but hey, when Indosat got privatized, what had happened? the cost of calling people suddenly drop, Telkomsel was forced to pull some strings too on their profit. Good thing for the less fortunate people huh? of course not for the richer ones, they lost lots of profit from Indosat selling. but hey for now we get cheaper price, but unfortunately crappy quality as well. Need more option in the market though, Big players such asTelkomsel and Indosat might need a better competitor in the future. So we can get better provider, with cheaper services.

Back to assets, I am really not an expert in this, and I am not writing this to show that I am having some kind of renaissance in religious thinking. I just think this is a good idea to distribute assets and more opportunities and empowerment to the poor, yes its about assets, just less "ekonomi rakyat", or "komprador", or anti "neoliberal" label in it.

mind you, but the only one who getting rich has always been the one with greater access to the power, and hence I don't really think having assets like Indosat, caltex, (or whatsoever the target of the you-know-who) might benefit the poor. Instead the poor will still be marginalized by our bureaucratic systems.

If you consider yourself nationalists you might consider to contribute to this or this. its all about a collective action in providing public services. No unlawful confiscating asset needed, just a simple philanthropy. Remember that Adam smith, the father of economics, strongly advise small government, but he himself regard benevolence as a supreme virtue. A free will based benevolence, a self-interest benevolence.

Ayo Indonesia !

I must in some sense agree with yusuf kalla. our economy is growing 6 percent, while others on the verge of breaking down. In this case the government's economic ministers must be given some credit. SBY and JK, despite of many blunders they have made, in some point have courageously shown their plan in putting away our nation dependence on oil source-fuel. This is as well need to be given extra credit, while all other preceding presidents have no guts to do.

Our nation is evolving, and criticism from fellow economists is good, as long as it is not intended for political purposes.

it is easy to distinguish political criticism, First, it is almost always come from the same groups/political party/ and politicians. Second, these critics seems to be related with normative terms than empirical studies. Third, most of this politician only say what people want to hear, and never ever do the opposite.

Satu tulisan kompas yang menyedihkan

Ini adalah tipikal tulisan konspirasi. Suatu artikel yang menyedihkan karena (1) tidak dilandasi bukti empiris yang kuat, (2)satu satunya referensi adalah tulisan dari sebuah buku, dan (3) cara pengambilan kesimpulan yang tidak objektif. Tulisan seperti ini jelas tidak layak masuk kompas. Bahkan untuk edisi online nya yang kian hari kian menyerupai kembaran detik.com. Menyamakan kebijakan SAP IMF dengan perdagangan global adalah menyesatkan. Penulis menyatukan berbagai macam informasi yang ada, kemudian merangkai menjadi sebuah tulisan yang entah suatu hasil investigasi yang lengkap atau tidak.

artikel ini juga menyesatkan karena ;

pertama, IMF bukan representasi perdagangan global, entah apa justifikasinya perdagangan global direduksi menjadi satu institusi keuangan internasional. Pernahkah ada teori yang menyatakan begitu? perdagangan bebas adalah IMF? saya yakin tidak. Jikalau artikel ini hendak menyerang SAP IMF, maka objek serangan adalah IMF, bukan perdagangan bebas.
Kedua, justru sistem subsidi di eropa barat untuk petani nya yang membuat investasi pertanian di negara berkembang terhambat, (1) karena negara berkembang tidak diijinkan menjual hasil pangan sesuai dengan harga keekonomiannya, subsidi di eropa dan amerika mengkamuflase harga, dan membuat investasi tidak berkembang. (2) Ada kuota tertentu dalam pengiriman barang pertanian. artinya ada dua pembatasan, baik dari harga maupun kuantitas.
contoh negara haiti misalnya, yang ditekankan adalah IMF memotong tariff, padahal memotong tariff akan membuat penduduk akan mendapatkan harga beras yang murah dengan kuantitas yang lebih banyak. jadi pemotongan tariff bukan lah masalahnya, tapi subsidi di amerika dan eropa yang membuat padi non-organik mereka lebih murah. Tentu sisi buruk subsidi ini tidak dibahas di artikel yang tidak objektif seperti ini, yang dilihat hanya sisi yang bisa membantu anti-tesis nya terhadap perdagangan bebas.
Ketiga, artikel ini juga mengesampingkan efek lain yang menyebabkan kenaikan harga pangan, seolah olah kenaikan harga pangan hanya dipicu oleh kebijakan salah dari IMF. Kenaikan harga minyak, dan fakta bahwa semakin banyak penduduk dunia yang mengkonsumsi daging dan oleh karenanya meningkatnya konsumsi pakan ternak juga adalah faktor signifikan yang secara sengaja disembunyikan dari pembaca. Satu tipikal tulisan kelas tabloid yang tidak objektif, ditulis demi melonjaknya tiras dan jumlah pembaca.
Keempat, meningkatnya produksi crops (bahan pangan yang bisa dijual) dan menurunnya produksi staple foods di negara negara afrika juga hanya dilihat dari sudut pandang yang sempit. Petani bergerak berdasarkan insentif, ketika harga barang pangan ditekan, sedangkan harga crops menjulang, tentu mereka akan memproduksi crops. Kunci disini adalah ketersediaan pasar untuk menjual crops tersebut. Keterbukaan pasar membuat mereka bisa mengalokasikan sebagian produksinya kepada bahan pangan yang menghasilkan uang, di sisi lain petani tidak memiliki insentif untuk meningkatkan produksi staple foods, karena tidak ada pasar disini. Pembeli dan penjual tidak bebas menjual hasil produksinya. Yang berbahaya adalah ketika kedua pasar tidak berjalan, petani akan menuju ke arah produksi yang self-subsistence dan produktivitas menurun tajam.

Investasi terhadap bahan pangan memang seharusnya dilakukan, tapi savings dan investasi tidak harus dilakukan oleh pemerintah, swasta harus diikut sertakan, Kebijakan pembatasan impor dan intervensi harga juga akan menggiring ke arah yang salah di kemudian hari.

Menyedihkan karena smua kata kata artikel ini akan ditelan bulat bulat bagi pembaca kompas dimanapun berada, dan kompas sebagai pendistribusi informasi bertanggung jawab penuh atasnya. Hanya untuk seonggok tiras, informasi dibelokkan sedemikian rupa.

Intermezzo on one of these hectic days

Been busy with my so called memoire and I stumbled upon this guy, wow, his works are always amazing, at least for me I can't resist to "blogmarks" it here. one recent paper discussed in Rodrik's Blog, yeah! even he, got impressed. Very interesting indeed...

update : oil price is skyrocketing, 144 USD/barrel, yeah and those guys in Senayan are still acting Mr.Right for the sake of political expected return in 2009. what a crap.

Mimpi Mimpi indah

Tahun 2009 akan menjadi titik tolak bangsa. Entah rezim mana lagi yang akan berkuasa, akankah SBY masih berada di pucuk pimpinan? saya tak berani bertaruh, yang pasti titik perubahan sudah dimulai sejak rezim kali ini, terlepas dari kekurangannya, pemerintahan sekarang harus diakui usahanya dalam menghadapi tekanan tekanan eksternal seperti bencana alam, krisis keuangan dunia, krisis pangan, dan kini krisis minyak. Satu hal yang menarik disimak adalah berkurang drastisnya subsidi BBM, salah satu beban yang mengganjal sedikit demi sedikit dikurangi, semoga ke depan, terlepas dari segala pro dan kontra, ini suatu pencapaian yang tidak bisa dicapai oleh pendahulu-pendahulunya. Siapapun presiden yang akan terpilih bisa melanjutkan trend ini. Tentu masih banyak sekali PR bagi pemimpin kita yang baru, simpul lain yang mesti diurai adalah masalah restrukturisasi pajak, dan Hutang dalam negeri, dua duri dalam daging yang belum juga selesai "pembedahannya".

Masa depan itu masih tidak pasti, tapi seandainya boleh, mari kita berandai andai, atau mungkin bermimpi, mimpi yang indah. Ruang gerak APBN tentu saja akan lebih leluasa di rezim yang baru nanti, saya mau berandai sekiranya apa saja yang bisa dilakukan. Kompas(6/04) memperkirakan 30 trilyun rupiah bisa dihemat. Setengah akan disimpan, setengah lagi akan dikucurkan sebagai bantalan bagi rakyat miskin, berarti 15 trilyun dana segar. sekiranya jadi presiden dana tambahan 15 trilyun di APBN periode berikut, saya bermimpi dan mengigau begini :

[1] merujuk kepengalaman negara scandinavia, uang penghematan dari penjualan minyak dialokasikan sebagian besar dalam bentuk dana abadi, yang berkembang biak untuk kemudian digunakan dalam beberapa dekade ke depan. katakanlah 5-10 trilyun di belikan obligasi international. tambahan 10 trilyun lagi dari penghematan dana kementrian. jadi sekitar 2 milyar dollar, dengan rate investment 2 persen saja bisa terkumpul 200 milyar rupiah per tahun, ini berbeda dengan menyimpan uang di BI yang tanpa bunga hingga sekarang. Entah apakah ada peraturan penyaluran dana APBN di luar negeri, tapi penyaluran dana keluar negeri jelas lebih baik daripada menyimpan dana di bank komersial di indonesia, karena resikonya efektivitas Bank sentral berkurang.

[2] Alokasi dana pendidikan. Beberapa waktu yang lalu demonstrasi di kampus BHMN makin menjadi, alasannya dana pendidikan naik dari satu juta menjadi sekitar 5 juta persemester, di satu sisi transformasi lembaga pendidikan untuk perkembangan sumber daya manusia menuntut perbaikan tebal kantung, sisi lain, semakin sulit mahasiswa untuk mengalokasikan pendidikan. Di Denmark, Swedia, dan Norwegia, sepengetahuan saya ada mekanisme dimana student bisa meminjam dana dari pemerintah. Pinjaman akan dibayarkan dalam jenjang waktu tertentu, setelah mahasiswa itu selesai dari periode sekolahnya. Dana ini akan bergulir setiap tahun, sehingga uangnya tidak menguap sia sia, tentu butuh perencanaan terperinci tentang ini, tapi potensi untuk menuju ke arah ini tetap ada. Dana penelitian sudah selayaknya ditingkatkan, Penelitian teknologi pangan, perikanan, dan teknologi tinggi sudah selayaknya didaya gunakan dengan poros-poros pendidikan sebagai tulang punggungnya. lembaga lembaga penelitian plat merah juga semestinya bekerja sama dengan universitas, demi bergulirnya transfer of knowledge yang berkelanjutan. Tidak hanya disimpan di loker loker berisi laporan laporan tebal.

[3] Pemberdayaan economics intelligences, saya kurang tau persis, apakah data departemen perdagangan cukup detail tentang perekonomian negara negara tradisional tujuan ekspor, tapi tampaknya sumber data masih bersumber pada data pihak ketiga, hasil agregasi. Contoh sumber data yang berguna seperti survey nasional di perancis misalnya, atau survey longitudinal tentang konsumsi rumah tangga di eropa, atau perkembangan data penjualan sektor unggulan indonesia di Eropa, dengan kode ISIC yang mendetail (setau saya di eropa ISIC nya bisa sampai 6 digit), dll. sepertinya sangat perlu untuk kita miliki untuk pemetaan potensi ekspor Indonesia, sebagian dana bisa digunakan pula untuk ini. contoh kecil, diseluruh benua eropa, saya hampir yakin industri souvenir parawisata didominasi produk dari cina, ini salah satu kejelian dari intel intel ekonomi cina.

Hari ini mimpi saya baru tiga, smoga nanti ada igauan dan mimpi mimpi lainnya..


BBM, logistik, dan Politikus bebal

Lagi lagi minyak, bosan sebenarnya mengomentari kelakuan anak negeri atau politikus, diulang ulang itu saja komentar mereka, tidak ada solusi, cuma syahwat berkuasa saja. Apakah mereka tidak juga mengerti bahwa BBM naik itu suatu keniscayaan, maka sudah selayaknya subsidi dikurangi bahkan dicabut secara gradual, mengutip petuah genghis khan "only fools who fought in a battle which is impossible to be won". Bayangkan di 2009 diperkirakan harga minyak mentah akan mencapai 200 dollar per barrel, dengan asumsi harga dibawah 100 euro per barrel dalam APBN berapa dana subsidi yang mesti dikeluarkan, atau berapa uang yang bisa dihemat jika harga minyak dinaikan? sangat besar sekali dana APBN yang bisa di re-lokasikan.

Inflasi yang meningkat itu jelas, akan mengurangi daya beli masyarakat, anak SD juga mengerti, tak perlu lah Mahasiswa dan politikus mengulang ulang lagu sumbang tersebut, perlu diingat inflasi sedang melanda dunia, bukan hanya Indonesia, baru kali ini saya mengalami di Perancis harga harga bahan pokok (terutama beras) naik sekitar 10 persen setiap minggu, bisa dibayangkan, perancis yang tingkat inflasinya telah relatif tinggi dibanding negara uni eropa lain (berkisar 1.8-2.2 persen) kini diperkirakan akan mengalami tingkat inflasi yoy hingga 4 persen, jauh memang dibawah Indonesia, tetapi lonjakan 100 persen dari perkiraan menunjukan lonjakan harga yang luar biasa dan persisten.

yang terpenting adalah membuat sistem yang bisa menjadi "buffer" dari eksternal shock ini, , Komentar bahwa rakyat miskin yang akan terkena efek negatif dari Minyak menurut saya hanya justifikasi moral dan alasan "heboh" yang politis, karena sebenarnya efek negatif inflasi akan lebih terasa oleh kaum urban dan menengah ke bawah yang steril dari BLT karena mereka adalah masyarakat non miskin, tapi vulnerable, angka perkiraan orang miskin adalah sekitar 7-8 persen total penduduk Indonesia (upah dibawah $1 per hari), sedangkan untuk level vulnerable sekitar setengah dari penduduk (49%).

BLT sangat penting artinya bagi rakyat miskin untuk bertahan dari eksternal shock ini, sayangnya tingkat kesalahan penempatan yang tinggi (smeru estimates : 45% salah sasaran), dan tingkat korupsi yang tinggi sangat mengganggu proses ini, studi dari Olken(2005) menunjukan rent seeking behavior besarannya berbanding lurus dengan banyaknya tangan birokrasi, semakin menuju ke sasaran, semakin besar pula rent seeking tersebut, studi dari Gauthier(2007) juga menunjukan bantuan kesehatan sebagian besar tidak sampai ke sasaran, di uganda misalnya, 86% dana kesehatan di korupsi dalam bentuk rent seekers pada harga obat (nilai obat lebih besar dari nilai asli atau obat yang diberikan gratis diperjualbelikan), dan berkurangnya dana yang mengalir ke fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukan betapa sulit pendistribusian BLT tersebut tanpa sistem yang jelas. Sebagai institusi, kantor pos yang tersebar di seluruh indonesia, akan lebih baik dalam menyalurkan dana BLT, begitu pula dengan kantor PPK (penyalur dana kecamatan development project), akan jauh lebih baik lagi jika orang miskin memiliki rekening di kantor pos dan mengatur sendiri uang nya tersebut. Cek kosong berupa kupon terbukti tidak efektif karena kupon tersebut sendiri adalah quasi-money yang dapat diperdagangkan.

Masalah yang sama terjadi pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan inkind relatif tidak efektif dibanding dengan bantuan uang, kemungkinan pertama, barang yang datang tidak sesuai nilainya dengan nilai pembelian. Kedua, bantuan berupa barang (terutama kertas dan buku) beresiko tinggi diperdagangkan (seperti kupon dan kasus obat) oleh oknum sekolah. Seperti umumnya masalah principal-agent, masalah korupsi yang tinggi ini harus diperbaiki dengan sistem insentif dan supervisi yang tepat carrot and stick dalam artian payung hukum yang tegas sangat krusial dalam hal ini.

Bantuan Langsung Tunai memang sangat penting tapi tidak cukup, karena BLT berusaha untuk meminimalisir efek eksternalitas negatif dari kenaikan BBM terutama bagi orang miskin, tapi tidak signifikan bagi masyarakat yang termasuk kriteria vulnerable, eksternal shock sangat besar efeknya bagi bagian masyarakat yang vulnerable dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi (smeru, 2001), ini menunjukan quintile terbawah dari vulnerable people adalah yang paling besar terkena efek kenaikan BBM. Cara paling baik yang bisa dilakukan adalah berupaya menjaga kestabilan bahan pokok lainnya selain minyak , disini fungsi optimal logistik sangat dinantikan, fungsi logistik bulog dan pertamina selama ini menjadi keraguan besar, karena ketidak mampuan menyediakan pasokan yang berkesinambungan terutama bagi barang subsitusi dari minyak seperti gas. Adalah suatu aib besar ketika BUMN sebesar pertamina tidak dapat mengatasi kelangkaan gas, menurut saya ini dikarenakan ada monopoli terselubung pada rentang agen (belum lagi pertamina sendiri yang juga praktisi monopoli,tapisudahlah), pertamina seharusnya menyediakan pesaing bagi para agen tersebut, katakan lah pusat distribusi gas di tiap unit POM bensin, sama seperti halnya dengan pendistribusian kupon BLT di tahun 2005 rent-seeking dari intermediaries agent berasal dari informasi yang asimetris, dalam hal ini pusat distribusi gas. Akses mudah, murah dan pasti dari gas dapat meredam efek negatif dari kenaikan BBM bagi kalangan vulnerable dan mempermudah proses mutasi minyak ke gas. Begitu pula dengan BULOG, BULOG mesti mengerti bahwa perilaku petani juga memiliki pengaruh penting dalam penyerapan gabah kering, faktor resiko jatuhnya harga gabah di pasaran pada saat panen membuat petani berlomba menjual gabah basahnya, yang berujung pada self fulfiling behavior, karena harga terdorong ke bawah, resiko yang besar dari fluktuasi harga dan seringkali juga ketidak pastian musim ini juga membuat pemilik lahan bersedia berbagi resiko dengan rentenir/tengkulak dengan menjualnya dalam versi basah ke tengkulak (versi lain dari share-cropping) walaupun dengan keuntungan yang lebih rendah (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh BULOG, terkait dengan lag pembayaran dan birokrasi), dari sisi pendistribusian juga masih perlu banyak yang dibenahi, pendistribusian beras (setidaknya yang terlihat di media) , dari kapal ke gudang-gudang seperti layaknyanya pergudangan di Indonesia, masih sangat primitif, dengan menggunakan manpower. Jika saja dana non budgeter dulu dipergunakan untuk dana perbaikan standard operation procedure dan barang modal, niscaya pendistribusian bahan pokok akan jauh lebih baik. Saya yakin banyak ahli logistik di Indonesia, dan seandainya BULOG, pertamina dan PGN bersedia membuka diri dan terus memperbaiki diri, masalah logistik akan mudah teratasi.

Jika memang PT gas negara, BULOG dan pertamina tidak mampu mempermudah akses terhadap gas, dan bahan pokok maka sudah selayaknya pertamina dan PGN dan BULOG dilikuidasi dan kita membuka lebar lebar terhadap perusahaan distribusi asing.

kenaikan harga minyak sudah jadi barang basi, dan tidak selayaknya jadi ajang politisasi sesaat,sudah saatnya kita menerima kenyataan bahwa minyak fosil sedang menuju kepunahan, alangkah lebih baik apabila kita pergunakan dana berlebih untuk memperbaiki akses terhadap peluang daripada untuk menambal lobang yang kian hari kian lebar. Tidak banyak orang tahu bahwa banyak potensi tersembunyi di negeri kita, batang padi sekarang bisa diolah menjadi bahan chip komputer, minyak jelantah bisa dibuat menjadi bio-diesel, para peneliti bisa membuat radar dengan menggunakan batterai kecil karena listrik yang digunakan hanya berkisar 1-5 watt, perkembangan sollar cells di LIPI dan BPPT juga semakin gencar, menuju pemberdayaan listrik murah dan banyak lagi, para politikus dan mahasiskus (mahasiswa yang gemar sirkus politikus) sebaiknya sadar bahwa dana yang dibakar sia sia di jalan raya adalah opportunity cost bagi produksi masal barang barang masa depan, begitu banyak hasil penemuan yang hingga kini berdebu dan dipajang di loker loker BPPT tanpa produksi masal. Perlu diingat, pengurangan subsidi dalam periode dua tahun saja (2005, 2006) bisa menghasilkan penghematan besar untuk mengirim 2500 peneliti untuk belajar keluar negeri hingga 2009, apabila jika kita bersedia berhemat, mengurangi konsumsi BBM sekarang, Indonesia akan lebih baik bagi keturunan kita kelak. Semoga.




Bernanke, we'll be watching you...

For those get bored with monetary economics books like me, the song must be a great start to read it all over again. Somehow it reminds me of the seminar class of Anwar nasution, the class where people shut their mouth, the class where we learn that being risk lover will end up pretty bad.

for those who share the same class with me, guys, remember when he was bragging about the CBS system? (in this video this is also the abreviation of Columbia business school)

for those who doesn't know anything about the beauty of Pak Anwar, should understand better by seeing this post

by the way please enjoy the video, tribute to dhira for the link, absolutely hilarious

Social capital Inequality

I found an interesting article yesterday, it's about the social capital inequality. Social capital is a productive asset generated from social connection. The theory is that : First, repeated interaction will increase trust among people in the society, higher networking abilities, making them able to get higher information, faster and sometimes better information than others. Second, trust and networks made collective action in establishing public goods is easier. I wrote about it implicitly here other supporters among economist and sociologists are here, opponents are here, as he mentioned the paper of sobel. In the paper sobel, stated that "One can acquire social capital through purposeful actions and can transform social capital into conventional economic gains", I think this is something we overlooked for some times, similar to the opponent above, quoting "trust" could be misleading phenomenon for the rich (he quoted thakshin sinawathra), but in some cases would be useful in acquiring information for the poor (rich people too?). Normally I would agree, as I consider information sharing is the greatest gift to human kind, but as Amartya sen would say, what will matter in the end is the capability of the poor, the freedom to use those information available. Back to the paper, I found that the paper is brilliant as it highlights the impact of inequality to the effectiveness of social capital, then social capital is indeed a source of poverty trap empirically.

how does it work exactly?
the ad-hoc approach of social capital in empirical analysis is trust indicator, and kinship relationships, but rarely significant (as my supervisor constantly reminded me..siggh..), it turns out that these indicators might affect people in both ways positive and negative, this allegedly conditional to the income level.

Poor people tend to be excluded socially and a subject of derogatory discrimination, therefore routinized relations and daily encounters between people generate social norms which shape patterns of inclusion as well exclusion of social activities. In other word, close relationship between people could constrain or enable the social structure of the poor.

Kinship variables, showing close relationship in siblings, or families, often seen as a remedy for risk alleviation for the poor, the poor will always be able to count on their relatives aid in case of unexpected external shock. The problem is, their families them self are poor, relying on them is not sufficient nor sustainable. Neighbor and friends closeness are considered in Putnam's work as a means of maintaining friends, and networks. The problem is the network it self was originally based on unequal status. The relations among people might be maintained just as close as clientage arrangement, as people acquire their resources by borrowing (credit), cheap labor (food exchange) which implies negotiations in their agreed terms, very often that the negotiation is not favorable for the poor. The paper stated "poor people relationships to those nearest to them in blood, marriage, and residence were therefore characterized by continuous supplication and unequal exchange".

In terms of collective action, social capital turns out to be less favorable to the poor, as the poor categorized with severe poor health and lack of food, which eventually lead to lack of productivity, therefore less opportunity to participate in a collective action and
thus less money gained for such activity. This is interesting, as this imply to different caste of poor, there are poor people, able to move on, accumulating resources overtime, and less fortunate poor, continuously sank to the bottom of the income distribution.

People should see poor as a singular, not plural word, then we would be able to see clearer, one is transitory, and one is chronic poor. Something failed to consider in ad-hoc static poverty measurement



a very brief look of scandinavian economics


Having the opportunity to study abroad, doesn't literally mean study in the campus alone. Everywhere I go,I always seen something interesting to watch, to learn, from other people, everyone. last weekend, I went to sweden, I spent a day in Stockholm,but spent most of my time in Uppsala,45 minutes by train from Stockholm. A perfect city, i would say, not too noisy like paris, less risk to be lonely than staying in Norway's country side. a small city, with surprisingly large mosque, the traffic was normal,no more embouteillages, but unfortunately no metro, nor tramway running around the city as well, but the transport was good, kinda expensive though. the train was better than Paris RER, and the buses were also much better and so was the transport from Nykoping airport to stockholm. much much better than Paris Beauvais transport.

the apartments for students is good, and well furnished. The neighborhood was nice,the people were great,nice and friendly, typical for small neighborhood kind of society, the city is surrounded by mountains,lakes, and trees, and of course snowy picturesque view... I just loved it, I need it to refresh my mind, which I wasn't able to do in the blurred and crowded city so called Paris.

the food was great, for me, as long as I could find a nice, relatively cheap, tasty and cozy, Chinese and Indian restaurant nearby, that should be good enough.

in Uppsala, we will able to find not only the oldest university in scandinavian country, but also large taxes,it was the largest in OECD countries, up to 2007, but becoming the second after denmark this year I think. However they had a very low inflation rate, only around 1 percent rate annualy. corruption is low, property right is protected, people should be able to do new businesses in only 15 days, approximately two weeks, I think this rather impossible in French style of bureaucracy. similarly to france, however they had problem with unemployment as well, since the policies in hiring people seems to be burdensome.

they had some unemployment fringe benefit for the unemployed, but wait,they had additional shortcomings ; "you wasn't able to work, so we gave you money to survive for couple of weeks", so here it is, first, at the very least, the unemployed is obliged to apply for work, at least 16 application every month, second, no matter how clever you are, if we find you a job first,and you wasn't able to find yours, you should take the job, so it would be normal for an graduate anthropologist to work in a supermarket. Those are the shortcomings, the allocation of talents were not efficient, but the Scandinavian way, normally worked it out, why? information is the answer, people might some time work in poor condition, but as time goes by, they may find a suitable job.

what makes this work very well in scandinavian countries, is that they have less population problem than latin america nor west europe, they had such a great culture that corruption is bad, property right is respected, financial market have lots of varieties, business is good, people are smart, informations are free.

they won't be able to export corn and seeds, but they export human technology, like hand phones, IT's and Volvo's..just being here, I am able to find a little piece of puzzle why people really think scandinavian model is great, what my friend always make a great fuss about.

it'a a small piece of puzzle, but I'll find the rest of puzzle sooner or later..
just to prove that what might be look nice in other countries, won't always be as juicy as if we implement it in our country,at least it wasn't as easy as it look.

one thing I hate in scandinavia, is the prices of fresh food. what's wrong with all the people here, I went to the supermarket to get some fresh chilies, and it costs me 13 crowns for three pieces of chilies, in Paris the same amount of money gives me a whole pack of fresh red chilies, around 30 pieces. siiighhh..

Aceh dan Mimpi Saya


Saya ngeliat hikmah dari Aceh,dalam artian itu peluang besar,
suatu daerah terbuka yang bisa kita bangun lagi dari awal, jauh dari kebobrokan jakarta dan sekitarnya (I do hope so).Aceh dari pandangan saya yang sempit, adalah region yang paling besar perannya buat indonesia di masa datang. Populasi tidak terlalu didominasi populasi tidak produktif,artinya orang muda yang produktif lebih banyak dari orang tua, infrastruktur dan tata kota juga bisa dimulai dari awal.

Sayangnya sepengetahuan saya isu besar aceh adalah relokasi penduduk, dan pembangunan fisik paska tsunami saja. Sisi ekonomisnya kurang disorot. Masalah lokalisasi industri misalnya, saya setuju dengan banyak pihak bahwa masalah aglomerasi dan faktor geografis mesti diperhatikan, hanya penting dilihat industri yang dimaksud disini. Di aceh kita bisa buat kota industri baru, padat modal dan padat tenaga kerja yang berbeda dengan kota industri seperti di Tanggerang.

mengapa berbeda? begini maksud saya; Industrialisasi di Indonesia seperti cerminan di Tanggerang dan basis "industri" lainnya selama beberapa dekade adalah industrialisasi yang semu, industrialisasi dihuni para pedagang, dan dealer (macam bapak JK) yang mengekstraksi harta bumi dengan barang modal kualitas tinggi, untuk kemudian menjualnya, ekspor non-migas kita memang sekarang berkembang, tapi isinya hanya sekitar plywood,barang barang turunan hasil bumi, apparel olahraga, dan barang barang jenis assembling lainnya. Masalahnya bagi saya ekspor tradisional ini sangat rentan dengan tekanan eksternal seperti harga minyak dan pergerakan kurs,ini karena barang barang modal nya sendiri sebagai input, kita impor dari luar negeri. Tahun 60-70an industri kita di indonesia selevel dengan korea selatan, sampai sekarang kita tak jauh jauh bahkan mulai dikejar oleh vietnam, artinya sudah ketinggalan 30an tahun dari korea selatan. Sekarang seharusnya sudah bukan era-nya jualan beras atau permen buat Indonesia, perlu ada lompatan besar di bidang industri untuk bisa mengejar negara lain.

dari sisi supply**, saya yakin kita gak pernah kekurangan, berapa ribu anak mahasiswa lulusan ITB,ITS,UNDIP,UI dll yang punya kapabilitas di bidang industri. Di bidang IT misalnya,ada seorang teman dari Burgogne bercerita kemampuan IT orang perancis sebenarnya masih standar, masih di bawah para pekerja IT indonesia. Contoh lain misalnya barang modal untuk perkakas dan pembangunan, semua barang modal untuk bangun infrastruktur di Aceh kebanyakan diimpor dari negara negara donor (kayaknya sih) Perancis, Jepang, Malaysia, dll. Saya kok gak pernah ketemu ya perusahaan besar indonesia yang mengembangkan alat alat berat setelah Texmaco. Coba bayangkan satu propinsi dibangun! berapa banyak alat berat yang dibutuhkan? dan itu smua potensi ekonomi ini bocor ke negara donor, sebagian kecil saja dinikmati oleh calo calo dari jakarta. Contoh lain barang perkakas dapur, saya pernah search di google perusahaan Indonesia yang membuat kompor listrik, keluarnya electrolux di suatu toko di glodok, padahal apa susahnya bikin kompor? (sotoy yah)

menurut saya yang suka sotoy ini masalahnya di sisi demandnya, supply** seharusnya bisa diotak atik lah, demand nya yang kurang, karena inheren sama banyak hal.

Ambil contoh kompor, mana ada investasi buat pengembangan kompor listrik dan turunannya kalau smua keluarga di indonesia masih pakai minyak tanah dan gas? di era industrialisasi sekarang ini selayaknya minyak dan gas digunakan untuk industri ,sepadan dengan harganya yang akan terus naik sampai kiamat, maka mesti industri yang menggunakan,wong cuma mereka yang bisa flexibel merubah harga barang sesuai cost produksi, sedangkan manusia sekuat apapun asosiasi buruhnya gak akan bisa naekin gaji tiap harga minyak dunia naik ,ya kan?. Makanya pengeluaran mereka juga mestinya tidak terlalu fluktuatif. Listrik dalam hal ini bisa juga menjadi fluktuatif tapi rasa rasanya tidak se-fluktuatif minyak karena hanya produk turunan dari minyak tambahan lagi listrik itu economies of scale industry, makin banyak yang pakai, makin rendah costnya beda dengan minyak yang harganya tetap karena kita impor.(tapi gak tau juga deh ga mau sok tau). Kembali ke kompor, kalo keluarga indonesia bersedia merubah gaya nya dari kompor minyak tanah dan gas ke listrik, demand kompor akan tinggi, sangat tinggi, gak usah lah kita ekspor dulu, menuhin permintaan dalam negeri pasti sudah belepotan.

Dari sini berkembang lah ilmu pengetahuan, teknologi, cluster cluster baru industry yang berakar kuat dan berkesinambungan di tanah negeri, bukan industry yang berkembang karena "orderan" assembling dari orang singapur atau malaysia. cluster cluster ini menjelma menjadi network, network anak anak pintar negeri yang menghasilkan ide ide segar, barang barang baru, yang sepertinya sekarang sangat jarang kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali.

Supply dari tenaga tenaga ahli muda ini sudah dimulai dengan proyek habibie, dengan IPTN dan lainnya, blue print riset dan teknologi kabinet sekarang juga sudah mengarah kesana,tambahan lagi bakal ada ribuan beasiswa untuk menjadi pintar dari dikti, Suatu saat ketika para cendikia ini selesai studi mereka akan mendapatkan tempat yang nyaman di pusat pusat penelitian teknologi yang bernilai jual, Saya berkhayal Aceh di masa datang kaya dengan infrastruktur dan tenaga ahli di bidang nya,menjadi semacam silicon valley di amerika serikat.

kenapa aceh? karena tempatnya yang sangat strategis, di ujung negara, dekat selat malaka,jika dibangun pelabuhan internasional (memungkinkan gak sih?)yang bebas dari pungli dan sarana jalan yang baik, kita bisa buat zona ekspor yang dekat dengan sumber industri dengan sangat mudah dengan akses yang baik ke selat malaka, baik melalui pelabuhan di aceh, maupun di medan, saya yakin bakal jauh lebih memiliki nilai jual daripada di cakung Jakarta utara.

Kedepan mungkin kita akan bisa mengekspor produk2 industri kualitas tinggi,bukan mengekspor beras dan jagung, sudah saatnya anak anak petani menjadi programer2 IT tangguh, anak anak buruh menjadi arsitek arsitek besar menjadi tulang punggung industri industri besar di Indonesia. dan biarkan para ilmuwan pertanian memikirkan bibit unggul buat makan, bukan buat di ekspor.

kuncinya menurut saya adalah kemauan untuk berubah seluruh rakyat, paradigma lama mesti didobrak, sudah terlalu lama bangsa ini lelap dalam tidurnya,membakar BBM bertahun tahun, membuang buang uang APBN untuk subsidi padahal infrastruktur pendidikan,kesehatan, dan industri tidak membaik, di papua sana masih ada orang pake kapak batu untuk mencari sagu,malah kita bangga dan sekarang menjadi obyek industri parawisata (siighh...)

tugas pemerintah di Aceh bukan hanya merelokasi penduduk atau mempetak-petakan kota, tapi membuatnya menjadi kekuatan baru di Indonesia

ps : ** untuk mengurangi salah pengertian, ini sisi supply buat pengembangan industri di aceh,-mimpi saya-, tidak merepresentasikan masalah supply di indonesia secara keseluruhan, artinya conditional terhadap masalah logistik dan pungli

Pembelaan Buat Negeri

kumpulan mahasiswa sekarang terlalu mudah berdemo, ketika masalah muncul, langsung turun ke jalan. Apakah tidak sebaiknya mengedepankan dialog dulu sebagai intelektual muda dalam rangka menggali solusi.Jika tidak apalah bedanya dengan tukang becak?, sekarang bahkan mahasiswa sudah beralih fungsi jadi preman, ntah apakah preman itu gantian yang malahan belajar sekarang.
Di liputan enam hari ini ada sekumpulan mahasiswa berdemo mengutuk kelambanan pemerintah menangani kenaikan harga.Tradisi reaktif seperti ini sepertinya telah menjadi trend sejak lama di kalangan mahasiswa, dan masyarakat kita.

(1)pertanyaan pertama buat mereka, harga yang mana? inflasi kah maksudnya? jika memang bgitu jawabannya menjadi sulit, suatu dilema karena instrumen pemerintah terbatas, suku bunga tak mungkin dinaikan lagi,bisa bisa jadi krisis yang menghantam, mengingat pasar uang dunia sedang memanas,pengetatan kredit dimana mana karena lembaga keuangan dunia merugi dikarenakan krisis mortgage di Amerika serikat. Pemerintah dan Bank Indonesia menjadi terbatas ruang geraknya, karena sektor riil dan sustainability hutang di masa datang taruhannya.

(2)Masyarakat yang mana yang dimaksud? smua orang bicara kemiskinan, rakyat sengsara, semuanya hanya idiom yang mereka dengar di media. Mahasiswa bagai kerbau dicocok hidungnya, mengekor tanpa mengerti masalah. ketika seorang pakar berbicara dengan titel PhD nya, mahasiswa politis ini merasa terpanggil untuk membela ide ide tuannya, tanpa ada proses menerima dan mempertimbangkan.

(3)Kenaikan harga barang barang itu karena apa? Kenaikan harga harga sebagian besar dihasilkan dari harga pasar yang tinggi, karena kepanikan para pengelola modal dunia.
Banyak orang tidak mengerti,di abad ini harga beras, pangan dan minyak tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi, ada faktor spekulasi dari pemegang modal,pemegang hak jual dari komoditas2 dunia. Kepanikan kenaikan harga minyak dunia, dan berkembangnya bio-fuel sebagai "emas hitam baru" membuat banyak pemilik modal beramai ramai membeli hak future option membeli komoditas pangan,untuk mengantisipasi harga yang lebih tinggi di masa datang, yang ironisnya berujung pada meningkatnya harga2 komoditas. Proses self fulfilling mechanism ini murni exogenous dari peran pemerintah, penjelasan kenaikan harga pangan lebih lanjut dibahas disini, yang menegaskan faktor eksternal adalah faktor penting penentu harga harga pangan yang meroket. Jalan pintas yang paling mungkin dipilih adalah subsidi, yang resikonya antara lain kemampuan fiskal pemerintah menurun drastis dan more inflation from demand pull inflation. Sebaik apapun skema subsidi langsung, leakage pasti saja ada. Intinya inflasi adalah suatu fenomena tidak aneh, bahkan kemampuan negara kita mempertahankan inflasi tidak bergejolak hebat adalah prestasi yang baik.

Data resmi menunjukan kemiskinan menunjukan trend yang membaik dari tahun ke tahun seiring dengan momentum pertumbuhan ekonomi yang membaik,tapi well-being masyarakat yang rendah, dan masalah eksternal yang buruk,menghambat proses ini. Orang orang pesimis atau tidak mengerti malah cenderung untuk menyalahkan dan mempolitisasi output data bps,mereka tidak mengerti bahwa poor in income term tidak selalu berkorelasi dengan poor in non income term, mereka tidak mengerti bahwa masalahnya terletak di pengembangan infrastruktur dan public policy dalam penyediaan barang publik, ironisnya mereka tidak juga mengerti bahwa ketika uang negara dibakar setiap hari di jalan jalan besar untuk orang orang kaya,di dusun papua sana masih ada saudara kita dengan teknologi zaman batu berkubang dalam kehidupan, di gunung merapi dekat bukit tinggi, banyak petani membakar panennya karena tidak ada fasilitas gudang yang memadai untuk sekedar menunggu harga gabah membaik. Banyak media menyorot susahnya hidup kaum pemulung di jakarta,tapi sedikit yang tahu, bahwa penghasilan "si hina" pemulung kadang bisa sampai tiga kali lipat gaji guru "sang pahwlawan tanpa tanda jasa" honorer di tanggerang. Definisi orang miskin dan sengsara di negara kita telah didikte oleh media, bahkan penyebab pemiskinan ini juga telah didikte oleh para opportunis politik dan masyarakat menelannya bulat bulat.

Sedih melihat perkembangan negara kita seolah dianggap angin lalu, oleh komentar komentar pengamat (politik) ekonomi dadakan, dan para anggota dewan yang tidak siap oleh data ketika ditanya wartawan dari media kelas tabloid.Masyarakat kita tidak mengerti bahwa dengan sekian banyak bencana alam, bencana kemanusiaan, perseteruan politik, kemunduran intelektual dan inovasi teknologi, negara kita masih bertahan, dan berkembang walaupun tertatih tatih.

Banyak perubahan telah dilakukan, subsidi energi dikurangi, dan dialihkan pada pembangunan infrastruktur, ini penting karena faktor non income masyarakat tidak menjadi prioritas selama satu dekade ini. Perampasan harta bawah laut indonesia oleh nelayan asing yang high tech,membuat proses pemiskinan nelayan semakin kompleks, kurangnya dana untuk membangun keamanan laut yang kuat kini sdikit demi sedikit ditambal,lemahnya teknologi masyarakat nelayan (seharusnya) mulai menjadi sorotan, penggunaan teknologi baru untuk memanfaatkan sumber sumber energi baru bermunculan. fokus dari departemen departemen di pemerintahan mulai membaik, birokrasi sedikit demi sedikit dikurangi di berbagai departemen, terutama departemen luar negeri.

Mari saudaraku bangun optimisme negeri, selama setiap politisi dan pengamat bicara pesimis atas negeri,terutama demi simpati anak negeri di pemilu 2009, selama media mempublikasi ini dengan tidak proporsional,dan selama rakyat menelannya bulat bulat pesimisme ini. Tidak akan bangkit negeri ini dari kesusahan

How do we run business here

well,posting kali ini sebenarnya hasil ngobrol dengan ekspat indonesia yang kerja di paris,lulusan politeknik Bandung, bidangnya IT, dia dan istrinya kerja di tempat yang sama. kantornya persis di depan apartemen gua. Hampir tiap minggu, di hari jumat kita ngobrol di koperasi KBRI, sambil makan siang menunggu shalat jumat.

karena kantornya persis depan apartemen gua, kita suka pulang bareng, disini lah sering ngobrol.Menarik sekali dari dia gua bisa belajar hal hal remeh yang mungkin gak bisa dibaca di buku, atau di internet. Hal yang cuma bisa diceritakan,yang cuma berasal dari pengalaman.

Awalnya smua berasal dari curhat,masalah di kantor,karena sebagian besar kantornya tampaknya bakal pindah ke India dan China. Dari situ mulai ngobrol outsourcing,nilai tukar,international trade, efek euro dan dollar,Diskriminasi sosial, sosiologi perkotaan dan lain lain.

tapi yang gua paling suka belajar dari dia,tentang kenyataan yang ada di Perancis, yang gak pernah kepikiran ama gua. contoh di paris ini, biaya anak sekolah kita gak bayar ke sekolah, tapi ke mairie seperti kecamatan, tapi kadang kadang juga setingkat walikota. Mairie ini yang akan membayar ke sekolah sekolah sesuai dengan unit costnya. Mairie ini sangat sangat independen, bahkan hari ini sedang ada kampanye pemilihan di daerah 15 arrondissement, tempat apartemen gua berada.I'll get back to this later.

Biaya anak sekolah, dalam hal ini di tingkat universitas, sangat beragam, tergantung dengan tingkat pendapatan orang tuanya. Kawan gua, sama sama penerima beasiswa, anak semata wayangnya di ecole primaire (semacam SD) gak bayar sama sekali, alias gratis, karena tingkat pendapatan penerima beasiswa-boursier- dibawah tingkat makmur perancis
lain halnya dengan tingkat skolah di atas universitas. ini tingkat biaya sekolah beragam, walau tetap bisa dibilang sangat rendah. Mahasiswa dengan tingkat pendapatan rendah tidak membayar pajak,akan tetapi mendapat banyak tunjangan dari pemerintah, lain halnya mahasiswa dengan orang yang berpendapatan tinggi terutama tingkat PhD, mereka harus membayar pajak yang tinggi, sekitar 20 persen gaji setahun.
Konsep ini berlanjut sampai tingkat terkecil, seperti misalnya harga makanan kantin sekolah, juga diatur seperti itu (walaupun ini lebih bersifat pungutan tidak resmi), anak yang berasal dari keluarga tidak mampu akan membayar lebih sedikit dibanding yang kaya, untuk barang yang sama.Caranya? mereka akan kasih kupon pembelian setiap membeli, dan tiap bulan orang tua akan di kenai biaya unit dikali dengan harga yang telah disubsidi.Untuk level universitas juga begitu, ada yang namanya CROUS, yang menyediakan makanan murah tapi sehat+ kenyang, dengan 2.75 euro kita bisa makan enak di cafetaria nya bagi level pelajar, sedangkan buat level pekerja, mereka akan dikenai biaya yang dobel. Ini terus terang, bagi gua menarik,terutama karena ini sudah dimulai dari sejak mereka sekolah taman kanak kanak.

Sebagai orang yang mengaku belajar ekonomi, insting gue langsung bilang, wah itu resiko menghasilkan free-rider, bisa saja anak orang kaya bilang ke anak miskin, "lo beliin gua itu dong, ntar gua bayar ke elo", well bisa saja, tapi sepertinya itu gak kejadian, kenapa? karena anak orang miskin juga pinter, dia tau, opportunity cost untuk jadi antek antek orang kaya ini,dia bakal lebih worst off. Dan lagi lagi yang paling penting adalah ini dimulai dari usia sejak dini yang dipahami oleh anak anak. Bahwa rent-seeking temptation sudah dikenalkan sejak dini, tapi tidak melembaga sedemikian rupa, menurut gua yang sangat menarik.

fakta lain yang menarik adalah, dorongan entrepreneurship sangat tinggi disini, orang bisa datang ke kadin paris (chambre de commerece de paris) untuk dapat informasi tentang pekerjaan yang bisa dilakukan, sekaligus info untuk mendapatkan pendanaan, dana sangat melimpah(terutama bagi penduduk asli)Bank seperti berlomba memberikan pendanaan.Hal yang sama juga di informasi tenaga kerja,jarak beberapa rumah dari tempat gua ada semacam pusat informasi pekerjaan,belum pernah masuk sih, tapi ruangnya di desain transparan,dinding nya cuma kaca besar,jadi kita bisa liat apa di dalamnya tanpa masuk. Satu ruangan besar isinya penuh dengan komputer, kita hanya tinggal log on, cari tawaran kerja, dan lowongan yang kira kira bakal ada.

hmm lowongan yang bakal ada? maksudnya? nah ini juga yang menarik. Ini semacam kombinasi social security yang baik dan departemen tenaga kerjanya. Karena Social security yang sangat baik, setiap individu dari kecil sampe tua terjamin oleh asuransi dan dana pensiun, dari mulai asuransi jiwa, sampai asuransi kesehatan, artinya ada consumption smoothing yang sangat baik. as a result,orang yang sudah masuk ke usia lanjut,gak perlu bekerja, hidup mereka sudah terjamin dengan tabungan dan investasi, tambah lagi setiap masalah yang tak terduga ditutup oleh asuransi.
jadi setiap kali para pengusaha ini pensiun, mereka yang tidak memiliki penerus akan bilang ke mairie atau chambre de commerce. "Nih usaha gua, gua mo nikmatin idup, tolong terusin,atau jualin aja ama yang mau",dengan adanya sistem ini lowongan kerja dalam skala tertentu menjadi predictable, di tahun 2008 misalnya,tiap tiap camat disini tahu, ah, kita bakal punya 5 tukang roti yang pensiun, 10 tukang daging, dan 10 pialang saham,so,mereka bisa tawarkan ini pada orang yang gak punya pekerjaan.
kekurangannya sih,sistem ini gak applicable buat orang yang berpendapatan tetap, untuk mendapatkan fasilitas informasi ini, orang tersebut tidak boleh bekerja, atau recently being laid off,jadi orang yang bekerja tapi ingin investasi lagi, mesti gunakan "sistem convensional".

Memang pajak pendapatan sangat tinggi, akibatnya pengangguran relatif tinggi sekali di perancis di banding negara eropa lain yang lebih terbuka,level pengangguran terjaga lebih karena kesepakatan pengusaha dengan asosiasi pekerja yang aktif sekali. terutama paris.

yang lebih menarik adalah tingkat inflasi yang rendah dibanding negara asia, tapi relatif tinggi buat negara eropa secara rata rata,yang by the way cenderung meningkat terus. I'll comeback to this later.

Sistem eropa barat memang sedikit sosialis,tapi tidak kebablasan seperti negara negara eropa timur. Gue melihat penting banget negara kita ngadopsi sistem ini, gua melihat diri gua sebagai orang yang liberal,tapi konsep perancis ini, terus terang, I find it very interesting. Konsep BOS misalnya,selama ini selalu diselewengkan, karena orang tua murid, berinteraksi langsung dengan administrasi sekolah, walau duitnya turun, masih saja ada benefit untuk curang. Lain halnya jika administrasi berinteraksi dengan Camat, atau walikota, dia tidak punya bargaining power buat ngontrol walikota, tapi justru sebaliknya. Sedangkan walikota juga "terpaksa"
mengawasi kepala sekolah, karena terpilih tidaknya dia di tahun mendatang, adalah tergantung kepada ada nya dukungan orang tua orang tua murid itu.

banyak sekali sih yang bisa diaplikasiin di indonesia, sayangnya lagi lagi kita punya masalah di diseminasi informasi dan transparansi, di norway bahkan katanya kita bisa tahu berapa jumlah pendapatan orang di sebelah kita, hanya dengan search engine di internet,asalkan kita tau nama lengkap dan pekerjaaanya. itu yang gua sebut diseminasi informasi, transparansi. data data dan data yang akurat.. smua cita cita ini gak akah bisa terwujud secara tiba tiba, tapi perlu Hukum dan institusi yang mengawal masyarakat ber transformasi dalam aktivitas bermasyarakat menuju ke tingkat masyarakat yang lebih baik.

ps : ini ada satu contoh dari norway cara mengatasi prostitusi

ps : blog post updated karena ada kritik membangun dari mas Rio Hasan

Why should rich people got rich? it's the matter of seeing things differently

I read a blog today, complaining that inequality is becoming higher and higher, seeing that all conglomerates got their cash increased 40 milliards dollars in one year. As Easterly will brilliantly say, that not only the poor trapped in poverty, the rich is being trapped to in wealthiness.

the blog mentioned some data, but kinda outdated, but whatever. she mentioned poverty rates in 2006, but accommodating Bakrie's richness in 2007 in comparison. First of all, those data is incomparable .Bad mistakes. if we see the newest data, indeed poverty decline as well, not very larged though. the idea is here, the growth has positive effect on everybody, notably the rich and the powerful though. In this I agree.

I don't see any problem with this, not that I'm pro-inequality, it is the fact that all nation is having, in all part of the world. As long as rich people got richer, and the poor people got less poorer, it's kinda OK for me, well better than poor people got poorer, no?
I mean, the very problem of inequality and poverty is that, we don't know exactly what are the determinants, in my opinion it's most likely social -interaction problem, rather than Macroeconomic problem, it's the information sharing, not the problem in growth. Off course inflation got higher effect in the short run, but really, access to credit, and information is kinda better in explaining long term poverty.

may be my post is kinda strange for one studying development, what I am saying is that it is normal that people get rich everyday, as long it doesn't take the proportion of the most poor people, in Aburizal bakrie's case I am not convinced enough the reasoning is, what's for sure, not because he has bakrie's plantation(the blog mentioned these reasons), it's more like better preferences in BUMI resource's stocks, keeping the price higher than ever. Complaining that these people got our natural resources depleted for their own wealth is kinda odd, let's say we'll give poor people couple of hectares of land in kalimantan, what would they do? -this is typically what Venezuela do-, their resources are now underutilized, not only the people got no knowledge to use it properly, but also when they want to sell it, no one will buy the land, so what's the use of having hectares of land, but unable to use it?

let's go back to bakries problem.I don't know whether his wealth won't come from poor farmer in papua back there, but what do I know is, when he got rich, he need to invest, meaning more jobs, so to measure the effect in bakries richness to the people, is how much real investment will come in the future?. indeed, Lapindo did take some people's home, but its (lapindo) loss is not to be neglected either. So while having devastated by the loss in lapindo's assets,it still gives him larger flow of money, meaning he got more gains in other investment (I do Pity the fact that the money comes from financial market) but it measured how this guy/company can handle unexpected shock, hopefully he will create more investment in the future, and more money to the poor. I believe it was called trickle down effects.

I praise the non-communist term, saying that free economy give people a relatively equal opportunity to be rich (and to be poor?), than Communist term. The whole idea of market economy is that all things are dynamic. Ones can sometimes moving out of poverty, and sometime moving in to poverty, the same case goes to wealthiness. People can be poor but in subsequent period got surprisingly rich, for randomized reasons. But in communist term, people should always be equal, should share the same burden in poverty, in their thinking, being poor together is better than having wealth gap, as poor people will always be victimized by the rich. so just eliminate the gap, so every people share the same despair. This is awfully wrong, in the sense that, it's true that most people got rich because their family had been rich for some time, but there are cases where, once poor people might in the future turned out to be one of the richest people in the country, these kind of people that will survive in this horrific competition world.


Rodrik for president

this guy is magnificent, this morning I read his 2006's Harvard mimeo paper this is one of the best paper I have ever read about Development policies..very smooth flow of writing, compact but very thoroughly in some details ,critical, but full of logic.

Wow. I was astonished with the paper, how it dismantled the augmented Washington consensus
at first, I think John williamson's revised WC would be good enough, but no, rodrik explains it better.. personally, i'll vote him for president of WB, or may be replacing monsieur Bourguignon?
Had I been Sby, I'll contact Rodrik first for suggestions, than fernando de soto..

or may be Rodrik for president in our republic? no..no...no I'm talking non-sense

hmm..did I?

update :
Arya gaduh post the much shorter resume of the paper

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger