Satu tulisan kompas yang menyedihkan

Ini adalah tipikal tulisan konspirasi. Suatu artikel yang menyedihkan karena (1) tidak dilandasi bukti empiris yang kuat, (2)satu satunya referensi adalah tulisan dari sebuah buku, dan (3) cara pengambilan kesimpulan yang tidak objektif. Tulisan seperti ini jelas tidak layak masuk kompas. Bahkan untuk edisi online nya yang kian hari kian menyerupai kembaran detik.com. Menyamakan kebijakan SAP IMF dengan perdagangan global adalah menyesatkan. Penulis menyatukan berbagai macam informasi yang ada, kemudian merangkai menjadi sebuah tulisan yang entah suatu hasil investigasi yang lengkap atau tidak.

artikel ini juga menyesatkan karena ;

pertama, IMF bukan representasi perdagangan global, entah apa justifikasinya perdagangan global direduksi menjadi satu institusi keuangan internasional. Pernahkah ada teori yang menyatakan begitu? perdagangan bebas adalah IMF? saya yakin tidak. Jikalau artikel ini hendak menyerang SAP IMF, maka objek serangan adalah IMF, bukan perdagangan bebas.
Kedua, justru sistem subsidi di eropa barat untuk petani nya yang membuat investasi pertanian di negara berkembang terhambat, (1) karena negara berkembang tidak diijinkan menjual hasil pangan sesuai dengan harga keekonomiannya, subsidi di eropa dan amerika mengkamuflase harga, dan membuat investasi tidak berkembang. (2) Ada kuota tertentu dalam pengiriman barang pertanian. artinya ada dua pembatasan, baik dari harga maupun kuantitas.
contoh negara haiti misalnya, yang ditekankan adalah IMF memotong tariff, padahal memotong tariff akan membuat penduduk akan mendapatkan harga beras yang murah dengan kuantitas yang lebih banyak. jadi pemotongan tariff bukan lah masalahnya, tapi subsidi di amerika dan eropa yang membuat padi non-organik mereka lebih murah. Tentu sisi buruk subsidi ini tidak dibahas di artikel yang tidak objektif seperti ini, yang dilihat hanya sisi yang bisa membantu anti-tesis nya terhadap perdagangan bebas.
Ketiga, artikel ini juga mengesampingkan efek lain yang menyebabkan kenaikan harga pangan, seolah olah kenaikan harga pangan hanya dipicu oleh kebijakan salah dari IMF. Kenaikan harga minyak, dan fakta bahwa semakin banyak penduduk dunia yang mengkonsumsi daging dan oleh karenanya meningkatnya konsumsi pakan ternak juga adalah faktor signifikan yang secara sengaja disembunyikan dari pembaca. Satu tipikal tulisan kelas tabloid yang tidak objektif, ditulis demi melonjaknya tiras dan jumlah pembaca.
Keempat, meningkatnya produksi crops (bahan pangan yang bisa dijual) dan menurunnya produksi staple foods di negara negara afrika juga hanya dilihat dari sudut pandang yang sempit. Petani bergerak berdasarkan insentif, ketika harga barang pangan ditekan, sedangkan harga crops menjulang, tentu mereka akan memproduksi crops. Kunci disini adalah ketersediaan pasar untuk menjual crops tersebut. Keterbukaan pasar membuat mereka bisa mengalokasikan sebagian produksinya kepada bahan pangan yang menghasilkan uang, di sisi lain petani tidak memiliki insentif untuk meningkatkan produksi staple foods, karena tidak ada pasar disini. Pembeli dan penjual tidak bebas menjual hasil produksinya. Yang berbahaya adalah ketika kedua pasar tidak berjalan, petani akan menuju ke arah produksi yang self-subsistence dan produktivitas menurun tajam.

Investasi terhadap bahan pangan memang seharusnya dilakukan, tapi savings dan investasi tidak harus dilakukan oleh pemerintah, swasta harus diikut sertakan, Kebijakan pembatasan impor dan intervensi harga juga akan menggiring ke arah yang salah di kemudian hari.

Menyedihkan karena smua kata kata artikel ini akan ditelan bulat bulat bagi pembaca kompas dimanapun berada, dan kompas sebagai pendistribusi informasi bertanggung jawab penuh atasnya. Hanya untuk seonggok tiras, informasi dibelokkan sedemikian rupa.

5 comments:

Giy said...

Persis seperti yg saya rasakan!
pada hari Jum'at saat pulang dari penelitian skripsi, saya baca kompas pada rubrik "FOKUS". Setelah saya baca, wartawan tsb, SHS, jelas pandangannya sosialis!

Saat itu juga saya langsung Email Pak IS ama Bung Nad, tapi sampai sekarang belum dapat tanggapan,he2..
----------------------------------
Penulis tsb jelas tidak benar2 memahami ilmu ekonomi. Mana ada modal malah bikin sengsara?
modal itu yg jelas ya bikin sejahtera....

itu jelas2 asumsi yg keliru.

Selanjutnya, data yg dipakai SHS sumbernya dari Bank Dunia. Tanpa diklarifikasi, data tsb langsung dipakai untuk justifikasi asumsinya yg saya sebutkan sebelumnya...

Akibatnya, jelaslah dari asumsi yg salah, kemudian ditambah data yg belum tentu valid...lalu ditarik kesimpulan, maka kesimpulannya juga pasti salah kaprah! berat2..


entah ini konspirasi ato bukan, tapi yg jelas tulisan tsb membuat saya resah setengah mati...

ada nggak ya wartawan kompas yg benar2 paham ama ilmu ekonomi?

saya aja yg calon "guru geografi" belajar ilmu ekonomi sungguh2, karena keruwetannya yg sudah terlanjur menyebar ke penjuru Indonesia...he2..

kalo hal2 seperti ini ndk cepet2 diluruskan, akibatnya bisa fatal!

Thanks atas reviewnya RM! saya tunggu tulisan selanjutnya,he2..

salam

Islamic Wealth Management said...

Nice blog, Di.. keep writing, keep sharpening your intuition...!

Jen said...

Do you write for newspaper as well, may I know? It's always nice to read a rebuttal. ;)

Rajawali Muda said...

Hi Jen, Nope I don't write in newspaper, I don't really appreciate my writings being cut for some space for newspaper's add..hmm however in this particular article, may be I should. :D

yeah..may be someday..

Anonymous said...

The Real Price of Everything: Rediscovering the Six Classics of Economics: Michael Lewis

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger