Bagaimana saya akan memilih

Hingar bingar pemilihan presiden rasa rasanya semakin nyaring akhir akhir ini, setidaknya di telinga saya yang tidak biasa dengan nyinyirnya para politikus yang berakrobat saling sikut dan saling injak, kadang lucu kadang pula membuat mual.

Ditambah lagi dengan era informasi yang semakin cepat isu isu bersliweran, tidak jelas hitam dan putihnya, tidak jelas pula siapa pengarangnya, sisi positif dari informasi yang begitu bebas,saya tidak kekurangan informasi untuk menilai lebih jernih, walau negatifnya, saya bisa merangkai ide yang salah, akhirnya menuju pada kemungkinan non-linearitas akibat yang berujung pada multiple equilibria. Saya beruntung punya banyak kawan yang berbeda beda info-nya, ada wartawan, ada dari LSM, jadi tidak pernah kekurangan gosip, walau gosip yang tidak jelas ini memang kadang membuat resah.

Ada gosip pemimpin sekarang hanya pencitra, padahal serigala berbulu domba, ada juga gosip para penantang itu orang suci, ada juga ide kalo sebagian dari incumbent itu benar sebagian lain nya setan, makanya pilih sebagian saja, ada lagi yang bilang penantang itu keduanya setan biang kerusuhan.

Seorang kawan kesal betul dengan salah satu kandidat, yang katanya hanya getol dengan pencitraan. Oleh karenanya menurutnya lebih baik memilih yang lain, saya melihat tidak hanya satu capres-cawapres, melainkan semua penguasa mencitrakan diri dengan harapan semu. Tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Di Indonesia satu mencitrakan sebagai ksatria non-KKN, yang satu mencitrakan sebagai ratu adil kaya yang membuat semua manusia kaya raya, yang satu lagi mencitrakan seperti nabi, pedagang yang beristri shalehah, kalo saya memang ingin menolak citra, maka saya harus menolak semuanya.

Orang sosialis menolak liberalisme dengan ketidak adilan, padahal tidak pernah ada jaminan seorang santo sosialis akan tetap adil dan lurus ketika berkuasa, sejarah mencatat kekuasaan tidak pernah membuat orang menjadi lebih bersih dan suci atau lebih adil. Sebagai pelajar ekonomi, saya juga percaya opportunity cost dari semua, begitu juga memilih penguasa

Dalam ilmu ekonomi kemampuan manusia untuk menebak perilaku orang lain sangat penting sehingga saya sebagai individu tidak kehilangan kesempatan untuk peningkatan utilitas saya. Oleh karenanya kemampuan untuk me-rule out non-credible threat juga menjadi sangat penting, sayang saya buta politik. Akhirnya saya hanya berani menilai dari tim ekonominya tapi dari sisi ini, penilaian saya menderita subjectivity bias, karena nomer satu jelas dicoret, nomer tiga juga tim sukses ekonominya sejak lama saya gak percaya.

itulah kenapa beberapa hari ini saya menikmati betul bacaan "complete guide for the prince of machiavelli for idiots" yang saya kumpulkan dari berbagai varian mengunduh dari om google. Sembari menikmati summer yang menyengat dan dua tumpuk "coni medi" gelato tiramisu dan pistacchio buatan juragan eskrim giolotti di sudut dekat pantheon roma.

tulisan machiavelli membuat saya memahami bagaimana politik dan penguasa bertindak dalam mempertahankan kekuasaan. Bahwa penguasa pada hakekatnya adalah penipu yang akan bergerak seefektif mungkin demi mencapai utilitas pribadinya. Peran social benevolant hanya target antara mencapai first best utility mereka yang tak mampu tercapai tanpa berkuasa. The prince dan Discorsi adalah karya fenomenal yang mengungkap perilaku penguasa dimana demokrasi masih muda, dan pemilihnya adalah anak anak yang senang ditipu dengan kata kata manis. Discorsi mengungkap peran para senator, yang seharusnya menjadi agen "check and balances", malah menjadi boneka dari utilitas golongan dan bukan utilitas semua.

dengan begini saya merasa bisa melihat lebih baik dan mampu me-rule out smua gosip gosip yang ada, karena semua gosip hanya pencitraaan yang sepihak, dan statis. Pencitraan pencitraan yang mengeksploitasi harapan plato dan aristoteles, bahwa welfare state rekaan mereka akan selalu terwujud, pencitraan bahwa akan ada penguasa yang suci seperti turun dari langit dan pembawa wahyu dan obat mujarab segala masalah.

Saya tidak anti pemerintahan, saya cuma memilih berhenti melihat citra, berhenti berharap bahwa politikus akan jadi orang suci suatu hari, saya memilih melihat outcomes, output akhir. Saya memilih untuk tidak ditendang kesana kemari layaknya bola, dengan isu isu norak atau ide malaikat, saya memilih demokrasi dan pasar, yang akan menendang mereka yang pernah benar ketika outputnya salah, dan membenarkan yang outputnya benar walaupun dulu berlaku sesat.

Sok Tahu

ada dua macam penyebab orang jadi sok tahu; satu, karena sudah teralu banyak belajar
kedua, karena tidak belajar. Yang satu belum tau semuanya, yang kedua gak tau apa apa.
keduanya salah, karena ilmu itu bukan titik, tapi garis.

Satu satunya kebenaran mutlak adalah pencarian.

Kemakan omongan sendiri, capek deh...

mari tertawa sebelum tertawa dilarang, mau ketawa?, baca ini

lah yang sedari awal bikin dikotomi dikotomi gak jelas bukannya sampeyan?

tertawalah dunia, tertawalah :)

Pro-rakyat vs Ekonomi kerakyatan , benarkah neolib setan?

Pemilu Pilpres kali ini memang luar biasa, perdebatan baik yang produktif dan tidak produktif mendominasi media masa dari Koran hingga facebook, topiknya pun bervariasi dari perdebatan agama hingga hankam. Temanya pun selalu menarik walaupun kadang tidak substantif.

Di ekonomi, debat yang menyita tenaga dan cenderung mempertunjukan egoisme adalah kerakyatan vs neolib a.k.a saling tunjuk dan saling klaim menjadi "angels and demons". Padahal perdebatan ini tidak pernah ada di literatur ekonomi, bahkan kedua term ini cenderung tidak jelas kelaminnya. Term washington consensus dilahirkan oleh Williamson yang menyarankan beberapa poin penting demi menyelamatkan kolaps nya perekonomian negara amerika latin, intinya adalah penghematan pengeluaran pemerintah, pengurangan beban dari BUMN yang tidak produktif, dan perbaikan kebijakan moneter yang menjamin tersedianya modal bagi ekonomi, yakni investasi dan pasar modal. Term ini yang "disalah gunakan" oleh para politisi untuk menghasilkan term neolib.

Washington consensus sendiri ditujukan bagi negara yang sedang gonjang ganjing dan nyaris bangkrut, seperti yang dikatakan williamson sendiri, washington consensus adalah anjuran bagi perbaikan kesehatan ekonomi, sama sekali bukan meminimalkan peran negara dalam semua lini,tetap masih ada peran negara yang proporsional. Dalam keadaan negara terbelenggu hutang dan paceklik pendapatan seperti negara latin, adalah wajar jika anjurannya adalah untuk berhemat.

Washington consensus adalah saran pilihan kebijakan yang sama sekali berbeda dengan neolib yang lebih ke tataran "konsep" individualisme, kebebasan individu, dan hak milik. Neolib adalah konsep bahwa individu bertanggung jawab atas miliknya sendiri, dan negara tidak berhak ikut campur untuk mengatur individu.

permasalahan mendasar dari segala kerumitan ini adalah, kita pernah mengalami mimpi buruk di kala krisis, IMF yang bertugas membantu menyehatkan perekonomian
sedikit "khilaf" dalam mengeneralisasi masalah. Sebenarnya kebijakan apapun pasti menghasilkan konsekuensi, sayangnya biaya yang dibayar dikala itu menjadi terlalu besar.Ibaratnya ketika tubuh didiagnosa diabetes akut, dan amputasi menjadi saran , sedangkan si dokter tidak menganalisa efek psikologis yang timbul ex-post si pasien menjadi suka mabuk mabukan dan stress, akibatnya kesehatan pun menurun drastis. Padahal jika saja amputasi tidak dijalankan segera, kesehatan si pasien juga tidak terlanjur baik, bahkan vulnerable, karena diabetes akut akan sulit menyembuhkan luka, tertusuk duri saja resiko nya bisa maksimal.

Seperti analogi dilema dokter diatas, permasalahannya adalah tidak terintegrasinya unit pemulihan dan unit reaksi cepat, kemampuan untuk mengatasi efek negatif dari kebijakan struktural di atas. Ini yang rodrik (Prof Ekonomi Harvard) analogikan sebagai "institution", bagaimana sebuah negara mampu mengatasi konflik sosial yang (mungkin) terjadi ketika negara terpaksa tidak mampu lagi menanggung beban yang kian berat. Rodrik lebih lanjut menawarkan konsep "augmented washington consensus", yang merupakan kebijakan makroekonomi yang didukung dengan kemampuan redistribusi pemerintah ke bagian dari warga negara yang akan paling rentan terpukul. Semakin baik kebijakan redistributif pemerintah semakin mampu pemerintah fleksibel dalam mengatur perannya dalam perekonomian.

Bagaimana dengan Indonesia? saya merasa lebih tepat negara kita sudah melangkah lebih maju dalam mendekati konsep Dani Rodrik, kebijakan anti korupsi,dan berbagai konsep redistribusi sudah di jalur yang benar,perlu perbaikan? tentu saja.

orang orang yang senang memaki neolib dengan pemahaman terbatasnya mencampur adukan kapitalisme,liberalisme,Hutang-isme melawan Nasionalisme,Sosialisme, kerakyatan-isme dan segala tetek bengek isme isme yang tidak aplikatif dan jargon semu.

Ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian dianggap seperti (calon) malaikat,padahal konsep ini mengandung resiko besar. Ketika semua beban ditanggung negara, negara akan secara subjektif memilih beban mana yang akan ia tanggung, lebih buruk lagi sebagai alternatif ketika semua beban sedemikian berat hingga negara itu jatuh,terpuruk dan tak mampu bangkit lagi.

"sistem ekonomi yang baru" ini penuh mimpi indah yang membuat orang lupa satu hal,satu mimpi buruk yang selalu menjadi momok bagi para ekonom : -inflasi- pajak yang tidak pandang bulu, bahkan cenderung lebih besar pada yang miskin di banding yang kaya. Omong kosong jika seseorang yang beretorika pro-miskin dan pro-rakyat jika di setiap pidatonya tidak disebut sebut bahaya inflasi. Inflasi tidak hanya membuat orang menjadi makin miskin dari waktu ke waktu, tapi kebijakan distributif pemerintah juga menjadi tidak efektif dan hanya memperparah masalah. Berapapun uang yang dihamburkan ke nelayan dan petani tidak akan efektif selama harga beras dan minyak tidak stabil.

yang lucu, ada pasangan cawapres dan capres yang katanya pro rakyat tidak mengerti masalah ini. (1) menolak BLT yang katanya hanya permen, (2) menolak modal asing katanya hanya hot money, (3)ekonomi kerakyatan yang hanya nelayan dan petani

BLT itu hak warga negara miskin, dan cermin redistribusi pemerintah, Modal asing itu penting buat stabilisasi nilai tukar dan inflasi, Sedangkan kebijakan yang hanya memikirkan harga beras naik, bukan hanya tidak efektif buat para petani, tapi juga menambah rakyat miskin (petani dan non petani) semakin banyak karena inflasi yang selalu seiring dengan harga bahan pokok.

menarik,sekarang orang bebas memperdebatkan isu isu sensitif dan "ide ide besar". Yang memprihatinkan sebenarnya bukan perdebatannya, tapi "ilmu berdebat" dan pengertian tentang esensi apa yang diperdebatkan.

Seperti halnya menonton film "Angels and Demons", akan lebih baik kita melihat di sisi yang lebih luas tanpa menilai mana yang "demons" mana yang "angels", mari menilai dari mata yng jernih,maka kebenaran akan menampakkan dirinya dalam waktu dekat karena kebenaran itu tidak memihak.

Wawancara yang membuat mendung

Matahari masih bersinar terang di musim panas di Roma sore itu, tapi mendung nampaknya bakal terus menghantui Indonesia. Dari siaran tunda youtube seorang cawapres baru saja di sebuah stasiun swasta berkoar dengan jargon ekonominya penuh semangat, tampak sedikit frustasi dan dengan penuh percaya diri menunjuk angka angka sunyi di setumpuk kertas yang ia bawa.

Sayang seribu sayang, angka angka itu tidak hanya sunyi,tapi juga bisu, seandainya angka angka itu bisa bicara,mereka akan tertawa dan berteriak protes tak kalah penuh semangat. Seorang cawapres yang katanya jika menang akan membawa Indonesia meraih 12 persen pertumbuhan ekonomi, seorang pengusaha kaya, seorang yang pernah bersinar terang di karir militer, sekarang dengan mudahnya ditertawakan oleh angka angka.

betapa tidak? saya saja yang sedang belajar ekonomi haqul yakin kalo cawapres ini keliru. saya bahkan tak sanggup tertawa, hanya melongo,sedikit tidak percaya. Bukankah ada tim ekonomi yang harusnya "mendikte" apa yang mesti dibicarakan?

titik pertama kemelongo-an saya adalah ketika cawapres ini menunjuk pada angka impor-ekspor, yang katanya selalu positif, sedangkan cadangan devisa kita yang tidak kemana mana. Masa tidak ada yang jelaskan pada beliau kalo yang dia tunjuk itu "current account", bukan "balance of payment", mungkin dia mau merujuk pada capital account kita ketika dia menyebut dana kita lari keluar negeri. well dia mesti tanya pada temannya sarjana akuntansi, apa arti balance, dan tanya ke ahli ekonomi publik kenapa balance of payment selalu diupayakan berimbang. oh ya tanya juga pada obama, kenapa ketika current account nya amerika selalu negatif, mereka tetap adem ayem? Saya gak percaya dengan menjadi pengusaha yang ekstraktif melulu beliau bisa mandi uang kayak paman gober, tidak mungkin di balance of paymentnya beliau tidak ada duit yang dia simpen di tempat lain. Nah ini kan namanya lempar batu sembunyi tangan.

kemelongo-an saya kedua ketika dia bicara tentang growth, yang dicampur campur dengan elastisitas pengangguran. Pengertian saya tentang growth, pertumbuhan, adalah ketika faktor pendukung "tumbuh" lebih baik daripada faktor perusak. Ekonomi akan tumbuh ketika kapital tumbuh lebih cepat daripada tumbuhnya tenaga kerja dan kualitas tenaga kerja.

"Tumbuh" tidak hanya berarti "menambah kuantitas" barang modal dan produksi, karena juga berarti "kualitas". Kuantitas akan menukik turun karena tambahan return yang dibutuhkan barang modal semakin berkurang. Tumbuh berarti, tambahan modal harus lebih dari menutupi biaya untuk mengganti modal yang sudah obsolete, mengganti biaya pembentukan pabrik pabrik baru untuk pekerja baru, dan mengganti biaya menyediakan "new tools" untuk para "new breed of workers", yang kebetulan memiliki skill yang berbeda dari generasi sebelumnya. Nah rencana cawapres ini adalah membuat growth 12 persen dengan membongkar hutan hutan di kalimantan dan papua untuk membuat untuk lahan pertanian, yang katanya kita masih punya keunggulan komparatif.

satu, pak cawapres mesti baca paper dari jagdish bhagwati yang merujuk pada "immiserizing growth", growth yang membuat sengsara. Membangun negara dengan dasar pertanian yang membabi buta akan mengurangi kemampuan negara ini berkompetisi. Di kala negara lain menjual chips komputer,video game, pesawat hercules dan sukhoi kita akan menjual beras, jagung dan ketan. Sayangnya kemampuan manusia makan terbatas,banyaknya uang tidak serta merta membuat kita makan jagung lebih banyak. Akibatnya kita menjual barang yang secara rata rata nilainya lebih rendah daripada barang modal,jika kita berdagang kita akan rugi.

kedua, generasi yang ada sekarang punya karakter yang berbeda dari generasi jaman pak harto dulu, jumlah tenaga kerja terdidik semakin meningkat,mustahil mewajibkan mereka menjadi "romusha", orang sekarang bebas memilih lapangan kerja nya sendiri. Seorang lulusan akademi perbankan misalnya, tidak serta merta akan bersedia bekerja di pertanian atau pekerjaan ekstraktif lainnya, seorang doktor ilmu pertanian akan lebih berguna jika disediakan balai pelatihan yang mumpuni, yang solusinya bukan saja dengan membuka lahan. Fokus di pertanian bisa,tapi tolong kualitas growthnya jangan dilupakan, tentu saja jangan terlalu banyak bongkar hutan, kasian anak anak kita nanti bernapas aja susah.

ketiga, apa otonomi daerah dipandang omong kosong? hendak kembalikah kita ke jaman
ekonomi terpimpin, yang semua orang didikte untuk membuat produk, menjual barang yang negara inginkan? apakah kita akan kembali ke era bupati bupati menjilat pantat eksekutif tanpa perduli pendapat rakyatnya lagi?

keempat, saya suka bingung dengan komentar para cawapres dan capres yang menyerang kebijakan neolib, disangkut pautkan dengan pasar modal. Pasar modal katanya setan amerika, sedangkan pertanian adalah sektor yang memenuhi asas kekeluargaan dan gotong royong. Fokus pada industri ekstraktif pertanian bakal menarik para pekerja di sektor jasa yang malah akan membuat sektor finansial kita semakin terpuruk. Susah kalo orang hanya membayangkan pemulung,pekerja kasar dan penjual tanah abang ketika menyebut rakyat. Apa para pekerja di sudirman itu bukan rakyat? pekerja pekerja berdasi itu bukan rakyat?

kemelongo-an saya yang ketiga ketika sang pewawancara panda nababan bertanya "selama ini bapak kan teori teori saja, tidak ada implementasinya" sang cawapres segera membantah, saya setuju,tolong jelaskan teori yang mana saudara panda nababan?

saya melihat cawapres ini seperti anak kecil yang melihat ibunya membuat kue, dengan alam fantasi kanak kanaknya, cita citanya adalah membuat kue raksasa sebesar rumah,sayang dia tidak mengerti esensinya membuat kue. Pengambil kebijakan publik itu seperti pembuat kue, yang penting bukan besarnya kue, tapi bagaimana racikan adonan, kekuatan mengocok, dan lamanya menyimpan dioven bisa membuat adonan "mengembang" sedemikian rupa, tapi juga mesti hati hati jangan sampai gelembung kue itu tidak pecah di mukanya sendiri.

Mungkin cawapres ini mesti baca tulisan teguh dartanto di tempo, yang mengkritik lemahnya janji surga politikus, smoga saja dia akhirnya bisa menertawakan dirinya sendiri.

Labelisasi : sejarah yang berulang

warteg shinta 22/05/2009

X : eh tau gak buku baru tentang bhineka tunggal ika?
Y : oh ya baru baca, tentang gerakan ambil alih mesjid itu ya?
X : hooh, bener gak ya?
Y : ah itu gua gak tertarik, yang lebih menarik tentang "sejarah" masuknya ke indonesia lebih lebih kampung halaman gua disebut sebut
X : tuanku nan renceh itu ya?
Y : yup,sang panglima harimau nan salapan..
X : Kenapa menarik?
Y : lebih tepatnya lucu,kok smua tentang isme isme yang berkembang selalu gitu nasibnya.
X : maksudnya?
Y : liat tuh wahabisme, datangnya dari luar indonesia, bikin kontroversi,yang berbeda (non wahabi) dibilang kafir,bahkan dihukum mati. Kata buku itu tuanku nan renceh itu bahkan ga terbukti pernah ke mekah, tapi radikalisme nya lebih lebih dari yang pernah belajar wahabi di mekah.

X : apa yang menarik dari situ?
Y : oh justru sangat menarik, liat kenyataannya sekarang,sebenernya di Indonesia sekarang juga lagi ada virus baru, ekonomi kerakyatan, alias sosialisme terselubung.
X : kok sosialisme?

Y : kenapa sosialisme? karena yang diserang itu itu saja, liberalisme, amerika,keterbukaan dan asing. Apa urusannya ekonomi rakyat diseberangkan dengan liberalisme? china dan India lebih terbuka dari indonesia, rakyat nya lebih tajir

X : he?
Y : ekonomi kerakyatan itu yang buat rakyat lebih baik, ya toh? kalo liberalisme jadi anti-thesis harusnya rakyat di china dan india gak lebih baik dong? anti-thesisnya liberalisme ya sosialisme, full proteksi.

X : hubungannya dengan tuanku nan renceh?
Y ; Loh belum nyambung to?
X : gini,sosialisme dari soviet,luar indonesia, semua yang gak setuju dengan prinsip sosialisme dianggap antek asing, bukan pro-rakyat, kapitalis, lintah darat, dll. Yang paling lucu juga kebanyakan pendukung juga belum pernah mengalami sendiri sosialisme ini.

X : belum pernah?
Y : ok jaman soekarno pernah, inflasi sampe beratus ratus persen, tapi kan orang udah gak inget, sejak jaman soeharto sosialisme gak pernah dipake lagi sejak soviet dan kolaps

X : hmm mirip juga ya nasibnya..
Y : satu yang beda, ekonomi itu bukan agama, ilmu ekonomi itu logika dan data,oleh karenanya berhak dipertanyakan, orang bebas untuk berbeda

Percakapan di sebuah warteg (II)

X :Kita ngomongin yang kemaren lagi yuk, sistem ekonomi aneh aneh itu..
Y :ok, gini sekarang mungkin supaya lebih adil,kemarin kan kita bahas banyak keynes,
sekarang menurut lo gmana tentang kutub satu lagi?
X :ekonomi pasar? hmm,kok gua liat sistem yang ini kok rada tega ya?
Y :well, gak juga,pandangan utama klasik itu setiap intervensi pasti ada konsekuensi
sering kali niatnya baik, tapi akhirnya malah jadi salah langkah.
X : kok bisa?
Y : misalnya,orang tua yang "menilai" kemampuan anaknya menggambar, dimasukan lah ikut les melukis,waktu si anak jadi habis buat melukis
X ; lho, bukannya bagus, biar potensi nya berkembang,ntar jadi pelukis hebat
Y : tidak selalu kok, masalahnya adalah "penilaian subjektif" orang tua itu, dengan mengarahkan menjadi pelukis berarti membatasi kesempatan dia untuk menjadi arsitek hebat,atau bahkan pencipta seperti leonardo da vinci yang doyan ngegambar juga.
X : iya juga ya, ini namanya biaya kesempatan yang loe agung agungkan itu ya?
Y : exactly.
X : jadi lo neolib ya?
Y : weits jangan suka ikut2 politikus deh. ide ekonomi pasar ini paling duluan ngetop, jadi banyak koreksi dan kritik, biar gampangnya kita analogikan keluarga kemarin ya, asumsikan anaknya ada dua. Masalah pertama adalah adanya "efek samping"
katakan anak pertama orangnya ulet telaten,dll, anak kedua, males, manja, ngompol sembarangan.
X :yah ekstrim banget,ekonom suka ya banding bandingin yang ekstrim..
Y :nah kalo kondisi begini si anak (1) bakal beresin terus kamarnya si anak(2),ini bermasalah soalnya anak(1)bakal berkurang belajarnya, anak(2) makin getol maen facebook.
X : yah solusinya apa dong? fatwa haram facebook?
Y :gua gak ikut ikut fatwa deh,solusinya itu orang tuanya hire pembantu,biar aja si anak (1) belajar rajin, si anak (2) juga ntar learn his lesson pas ngeliat rapot. sayangnya pembantu ini gak membantu si anak(2)cuma mengurangi repotnya si anak(1)
Y : kritik kedua informasi ga simetris,katakan gini, orang tua beliin buku buat dua dua nya maksudnya biar sama sama belajar, anak(1) dipake buat belajar, anak(2) dipake buat gambar,nah bisa ditebak fasilitasnya efektif atau nggak yang disediakan orang tua?
X : loh ini kan ala keynes dong, pake dibeliin buku?
Y : gak juga, orang tuanya kan ga nyuruh dipake buat apa, cuma dikasih buku kosong
Y : nah dua contoh kritik ini melahirkan satu cabang dalam ilmu ekonomi, namanya ekonomi publik
X : loh ada cabangnya lagi?
Y : wah masih banyak, misalnya kalo anak yang satu cacat sejak lahir, sedang anak kedua autis luar biasa, nah kalo orang tuanya ga bergerak bagaimana? dari sini lahir ekonomi pembangunan, gimana caranya dua anak ini bisa berkembang sama sama.
Y : Ada juga kasus anak (1) yang ganteng luar biasa,pinter,solatnya rajin, sedang anak(2)sedikit kurang ganteng,dan sedikit bodoh. Akibatnya orang tua bakal nah sampai kiamat juga cenderung ke anak(1) padahal anak(1) ini boros,kalo liat pasar becek maunya naek ojek, jatahnya anak(2)jadi berkurang. kalo di ekonomi namanya ini monopoli alamiah, itu lho kenapa di tempat kita ada KPPU.
X : Ada lagi?
Y : ada kasus lagi kalau preferensi orang tuanya bisa dimanipulasi,contoh orang tuanya suka sama dangdut, anak(2)kebetulan mukanya mirip ridho irama, suaranya oke punya, anak(1)ga punya bakat nyanyi. kebayang gak si anak(1)ujung ujungnya dicuekin orang tua?
X : loh kok jadi kebalik?
Y : iya, ini karena si anak(2) "memanipulasi elastisitas", orang tua lebih suka dangdut daripada liat rapot anaknya, akibatnya si anak(2)lebih diperhatikan soalnya dia exploit bakat dangdut, tapi gak pernah belajar. Dari sudut pandang welfare keseluruhan si anak(1) rugi karena dia akhirnya gak ada insentif untuk melakukan yang dia suka, belum lagi kesempatan untuk jadi jenius, hehe..

X : nah kok jadi ruwet sih, kok banyak sekali kasus nya ya?
Y : yah itu lah,masih banyak lagi kasus kasus lain, politikus kita kan nyaho nya cuma
neolib sama neolib,udah gitu belagak nantang professor ekonomi debat, tong kosong emang nyaring bunyi nya.
X : jadi siapa yang benar? makin ga jelas kalo liat koran sekarang
Y : ekonom yang salah most likely adalah ekonom yang merasa paling benar dan selalu bilang yang lain salah, ekonom yang benar adalah ekonom yang berpikir. menurut gua seorang capres tidak boleh mengkotak-kotakan diri dalam kotak neoliberal,pancasila, kerakyatan atau apapun,dia harus berdiri di atas semua itu, dengan tujuan yang satu,
kemakmuran bersama. Keadilan bagi smua, tidak hanya yang kecil tapi juga yang besar.

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger