Selamat jalan mba winefrida...

Indonesia has just lost one of her prominent researcher in poverty research. Mba Wina (Winefrida Widyanti) of SMERU, passed away on 23th may 2008, I received the first hand sad news from her colleague, a friend of mine. This is a very shocking news for me, even though I do not know much about Mba Wina, we do communicate intensely by mail, due to data analysis consultations, and indeed she had given me an enourmous help on my thesis work, plus priceless advices and encouragement from a researcher in her level. Once I asked her about regional poverty line calculation, and her respond was copying the poverty line details from a book, to a word document, so that she could put it in an attachement for me. This incredible deed is something that I will not forget. May god bless you for your kindness mba wina.
Her papers have been refered by many prominent researcher in poverty level including Martin Ravallion and Jotsyna Jalan, her work on poverty research is a major stepping stone in poverty research in Indonesia.
selamat jalan mba wina, smoga amal ibadah mbak wina di balas dengan berlipat ganda.
Amin..
28 may 2008

new ways to contribute

wow, this is new, proud of you guys lads..
Your report is not the thing that matters, it is the changing ways of voicing le voix du peuple that matters, this is exactly what to do, discussion is always a better solution.
Let's discriminate our self than non-intellectuals, and preman wannabe!

Lesson from Emil salim ; Thank you sir

let's unite Economists newbies!
see how Emil salim speaking about Total football economics! Creativity and value added Economics for the better future! let's them fight with all political crap, but we should not rest to show what's wrong and what's right, for the better sake of our country!

Pupus sudah !

lagi lagi posting tentang BBM, bukan, bukan ide ide saya kenapa subsidi mesti dipangkas, kali ini tinggal kekecewaan saja. Pupus sudah harapan masa depan Indonesia ketika baca berita ini satu satu nya partai yang saya rasa masih bisa diharapkan untuk tidak ambil untung dari isu isu negatif ternyata bobol juga. Sepertinya mimpi mimpi tentang Indonesia seperti yang saya tulis disini dan disini hanya isapan jempol saya saja.

Sudah lah, mungkin saya harus ganti kewarga negaraan saja. kalau masih terus berulang ulang seperti ini kapan negara ini bisa berubah, 30 tahun dari sekarang kita akan masih saja diributkan dengan masalah subsidi BBM atau tidak.Politikus-politikus senayan dan istana adalah partner, bukan lawan. Suara rakyat memang mesti didengar, itu jelas, akan tetapi tidak smua suara itu logis dan benar, karena tidak semua orang mengerti apa sebab dan akibat dari kebijakan, tidak smua orang bisa lepas dari ke-subjektifan penilaiannya. Oleh karenanya pemerintah dan legislatif harusnya lebih arif dalam menyaring suara suara yang mereka dengar, bukan sebaliknya, mengucapkan apa yang ingin didengar, katakan lah yang benar walaupun pahit. Pejabat sudah semestinya melihat ke depan dan lebih luas dari apa yang menjadi persepsi rakyatnya, dan jika visi nya membuatnya beresiko tidak dipilih lagi oleh masyarakat, itu adalah resiko yang mesti diambil.

saya tergelitik sebenarnya berkomentar tentang politisi yang saya sebut di atas, "biar sekarang jalan rusak dulu, yang penting dapur ngebul" ini jelas satu kesalahan besar terucap dari orang yang menjadi representasi jutaan manusia dari sabang sampai merauke, ucapan seperti ini jika terucap dari warga biasa contoh si A, adalah suatu ungkapan yang jujur. Beda dengan pejabat publik, seorang politisi tidak bisa melihat dari sisi A saja, ada si B yang membutuhkan bahan pokok di pedalaman sana, yang tak kunjung menerima pasokan dari kota terdekat, karena jalan jalan rusak. Ada juga si C seorang petani yang tak bisa menyekolahkan anaknya karena selain sekolah tidak ada di daerahnya, sehingga biaya nya sangat tinggi, akibatnya anak petani itu pun kehilangan kesempatan menjadi seorang insinyur atau seorang dokter di kemudian hari. Tapi nyatanya politisi ini lebih senang bicara tentang A daripada B dan C, karena lebih dramatis, politis, dan kesan-nya bermoral dan anti pemerintah. Sekilas mungkin politisi ini berpihak pada A, tapi di jangka panjang dapur A bukan saja mungkin tak lagi bisa ngebul, anak anak A tidak bisa sekolah karena memang tidak ada lagi sekolah, pelayanan kesehatan juga semakin jarang karena semua pos strategis untuk infrastruktur dipangkas. Jadi, apakah politisi ini memihak A? jika kita melihat lebih jernih tentu kita akan berkata tidak. Collier dan Gunning (2005) mengkritisi keras perilaku seperti ini menyebutnya sebagai intertemporal syndrome, setiap pemerintahan pasti memiliki masalah trade off antara konsumsi masa kini dan masa datang, disebut syndrome apabila pemerintah memprioritaskan sedemikian rupa konsumsi masa kini, hingga level dimana konsumsi aktual masa depan akan menjadi lebih kecil dibanding mas kini. Suatu cacat logika menahun dari aktor aktor intelektual senayan kita.

Pemerintah yang korup bukan hanya mereka yang mengambil harta rakyat dimasa kini tapi juga yang mensita harta rakyat di masa depan, lebih lebih lagi potensi harta yang akan diambil adalah harta yang berpotensi diambil oleh orang yang kurang beruntung saat ini, demi kepentingan harta dari orang yang lebih beruntung. Masalah intertemporal ini yang tidak juga dimengerti oleh para economist wannabe mendadak ini. Seorang teman dalam sebuah diskusi bahkan menyatakan "tidak perlu seorang ekonom untuk mengurus negara jika harga BBM dinaikan terus", mungkin benar, tapi mungkin perlu seorang ekonom untuk mengingatkan bahwa negara ini mesti punya umur yang panjang, berkelanjutan dan berkembang.

Sayangnya mereka tidak juga mengerti, dan sayangnya mereka berjumlah sangat banyak, mungkin sebaiknya tidak usah diingatkan lagi, tinggal silahkan sekarang pilih apakah memang negara ini mau tetap jalan di tempat sampe kiamat nanti, atau menjadi cina cina baru, atau India india baru di generasi mendatang.


Gugatan Kepantasan

Cross posting dari cerita seorang mualaf :

di awal keislaman, saya paling suka jika ramadhan tiba..

sejak mengalami boikot ekonomi dari ortu, sebagai konsekuensi keislaman itu, maka sedikit demi sedikit saya belajar harus membiayai diri sendiri. dari design stiker sampai jadi drafter tugas arsitektur. alhamdulillah, saya tidak pernah kekurangan.. walau juga tidak tahu, apakah sudah lebih atau malah kurang.. :)
saya suka berpuasa… -jujur- bukan demi ketakwaan, karena memang kadang makanan saya tuk sehari ada atau seharinya lagi tidak ada.

maka saya suka bulan ramadhan tiba.
karena di bulan ramadhan setiap hari itu berpuasa.
sehingga saya tidak usah bingung mau makan apa hari ini.
dan berbuka menjadi sangat nikmat..
walau hanya sederhana.

dan saya suka sedih kalau ramadhan itu akan habis.. karena saya akan kebingungan, tuk berlebaran di mana, seperti apa, dsbnya. alhamdulillah, seorang karyawan di tempat saya menitipkan diri dan bekerja di sana, sering mengajak saya berlebaran bersamanya. namanya teh Dedah, seorang yang invalid, cacat kaki, berumah sangat sederhana di bilangan balubur..
melihatnya yang sudahkah sangat sederhana, maka saya suka tidak tega ikut merepotkan berlebaran di rumahnya. maka di suatu lebaran, saya berniat tuk sendiri saja, di tempat kerja itu.

berbekal beberapa rupiah, saya berniat lebaran mandiri..
tiba-tiba, di malam takbiran.. pintu rumah kerja itu diketuk. dari panitia idul fitri masjid sekitar sana. saya diminta membayar zakat fitrah, plus seandainya mau dengan infak dan sodaqohnya..
saya terdiam sesaat..
ada yang sesak, tapi entah apa..

maka kemudian dengan ringan saya pun mengambil berapa rupiah itu dan membayar apa yang menjadi kewajiban saya. karena sejujurnya, mengapa juga saya harus merasa sedih, bukankah dari pertama saya masuk islam, -ada uang atau tidak-, saya selalu membayar zakat fitrah berserta infak dan sodaqohnya?

meski kata qur’an, sebagai mualaf, saya berhak atas zakat..?
saya tidak akan bilang kalau saya ini adalah mualaf hanya tuk sekedar diberi uang zakat. mereka toh juga tidak bertanya. alhamdulillah, selama di awal kemualafan dulu, saya tidak pernah menerima uang zakat..

saya hanya inget, sejak kecil saya diajari ibu tuk tidak menjadi peminta-minta. beliau mengajari saya berbagi dan bukan tuk hanya menerima, apalagi meminta..
maka dengan sisa uang itu, saya membeli indomie. tuk sampai libur lebaran usai dan saya akan kembali memutar roda hidup saya..

di hari fitri itu, saya mengenakan baju baru hasil jahitan sendiri. tempat saya kerja adalah sebuah usaha baju muslimah. saya bisa mencicilnya nanti kalau hanya sekedar kain tuk baju yang baru. maka menghabiskan malam takbiran sendirian, dengan sibuk di depan mesin jahit adalah sebuah kenikmatan..
paginya langsung saya pakai baju itu dan berangkat sholat ied di lapangan sekitar masjid..

semua orang tampak suka cita..
saya hanya sendirian, tersenyum jika ada yang menyapa.. dan kembali sendirian..
sambil menatap langit, saya hanya ingin bilang..
ya Allah, temenin donggg..
gi pengen temen nihhh..
temenin yaaa..

maka setelah sholat ied, saya bersalam-salaman dengan semua ibu-ibu yang ada.
lalu pulang ke rumah, memasak indomie, dan menyantapnya dengan santai sambil menghabiskan bacaan saya.

saya sangat berterimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu di awal keislaman saya. semoga Allah membalas budi baik itu dengan kenikmatan yang terus menerus.. sebagaimana selalu saya kenang dan tidak pernah ingin hilang..

alhamdulillah, indomie di hari fitri..
saya bisa berislam dengan mandiri..

maka kemudian saya nih suka merasa geli kalau melihat orang sampai berbuih-buih mulutnya, membicarakan islam berikut ayat-ayatNya. pandai mengaji, tafsir dan ilmu fiqih.
apa mereka pikir itulah islam?
padahal islam tidak akan kita ketahui sampai kita melaksanakannya? hehahaha :)

indomie di hari fitri..
saya senang..
bisa berislam..
dengan mandiri..
dan saya buktikan..
saya bisa..
alhamdulillah..
makasih ya tuhan..

anis

Dalam hati saya bertanya tanya hebat, kami, yang selalu komentar tentang BBM, entah yang pro atau yang kontra, Kami, yang menepuk dada kami pembela rakyat kecil dan orang miskin adakah terbersit di hati nya berperilaku seperti mbak anis ini. Lihat disana, para kaum urban yang masih bisa bersuara, masih mampu dan punya kocek untuk berdemo, berkata " kami lah rakyat itu, kami menderita, ganti lah presiden bebal itu", Atau mereka yang di senayan, yang tersenyum simpul, tertawa riang, mengumpulkan amunisi untuk 2009.

Kita sering lupa siapa yang kita bela. Ketika mereka, yang kita bajak namanya berjuang berpuasa, apakah yang kita lakukan ?. Kita buang buang energi untuk bersumpah, dan menyalak melempar batu dan menumpahkan darah! kemudian dengan mudahnya me re-charge energi itu dengan makanan makanan legit dan nikmat, mengulanginya lagi dan lagi. Kita, yang menepuk dada membela orang miskin ini, apakah kita pantas untuk membela mereka?

Mimpi Mimpi indah

Tahun 2009 akan menjadi titik tolak bangsa. Entah rezim mana lagi yang akan berkuasa, akankah SBY masih berada di pucuk pimpinan? saya tak berani bertaruh, yang pasti titik perubahan sudah dimulai sejak rezim kali ini, terlepas dari kekurangannya, pemerintahan sekarang harus diakui usahanya dalam menghadapi tekanan tekanan eksternal seperti bencana alam, krisis keuangan dunia, krisis pangan, dan kini krisis minyak. Satu hal yang menarik disimak adalah berkurang drastisnya subsidi BBM, salah satu beban yang mengganjal sedikit demi sedikit dikurangi, semoga ke depan, terlepas dari segala pro dan kontra, ini suatu pencapaian yang tidak bisa dicapai oleh pendahulu-pendahulunya. Siapapun presiden yang akan terpilih bisa melanjutkan trend ini. Tentu masih banyak sekali PR bagi pemimpin kita yang baru, simpul lain yang mesti diurai adalah masalah restrukturisasi pajak, dan Hutang dalam negeri, dua duri dalam daging yang belum juga selesai "pembedahannya".

Masa depan itu masih tidak pasti, tapi seandainya boleh, mari kita berandai andai, atau mungkin bermimpi, mimpi yang indah. Ruang gerak APBN tentu saja akan lebih leluasa di rezim yang baru nanti, saya mau berandai sekiranya apa saja yang bisa dilakukan. Kompas(6/04) memperkirakan 30 trilyun rupiah bisa dihemat. Setengah akan disimpan, setengah lagi akan dikucurkan sebagai bantalan bagi rakyat miskin, berarti 15 trilyun dana segar. sekiranya jadi presiden dana tambahan 15 trilyun di APBN periode berikut, saya bermimpi dan mengigau begini :

[1] merujuk kepengalaman negara scandinavia, uang penghematan dari penjualan minyak dialokasikan sebagian besar dalam bentuk dana abadi, yang berkembang biak untuk kemudian digunakan dalam beberapa dekade ke depan. katakanlah 5-10 trilyun di belikan obligasi international. tambahan 10 trilyun lagi dari penghematan dana kementrian. jadi sekitar 2 milyar dollar, dengan rate investment 2 persen saja bisa terkumpul 200 milyar rupiah per tahun, ini berbeda dengan menyimpan uang di BI yang tanpa bunga hingga sekarang. Entah apakah ada peraturan penyaluran dana APBN di luar negeri, tapi penyaluran dana keluar negeri jelas lebih baik daripada menyimpan dana di bank komersial di indonesia, karena resikonya efektivitas Bank sentral berkurang.

[2] Alokasi dana pendidikan. Beberapa waktu yang lalu demonstrasi di kampus BHMN makin menjadi, alasannya dana pendidikan naik dari satu juta menjadi sekitar 5 juta persemester, di satu sisi transformasi lembaga pendidikan untuk perkembangan sumber daya manusia menuntut perbaikan tebal kantung, sisi lain, semakin sulit mahasiswa untuk mengalokasikan pendidikan. Di Denmark, Swedia, dan Norwegia, sepengetahuan saya ada mekanisme dimana student bisa meminjam dana dari pemerintah. Pinjaman akan dibayarkan dalam jenjang waktu tertentu, setelah mahasiswa itu selesai dari periode sekolahnya. Dana ini akan bergulir setiap tahun, sehingga uangnya tidak menguap sia sia, tentu butuh perencanaan terperinci tentang ini, tapi potensi untuk menuju ke arah ini tetap ada. Dana penelitian sudah selayaknya ditingkatkan, Penelitian teknologi pangan, perikanan, dan teknologi tinggi sudah selayaknya didaya gunakan dengan poros-poros pendidikan sebagai tulang punggungnya. lembaga lembaga penelitian plat merah juga semestinya bekerja sama dengan universitas, demi bergulirnya transfer of knowledge yang berkelanjutan. Tidak hanya disimpan di loker loker berisi laporan laporan tebal.

[3] Pemberdayaan economics intelligences, saya kurang tau persis, apakah data departemen perdagangan cukup detail tentang perekonomian negara negara tradisional tujuan ekspor, tapi tampaknya sumber data masih bersumber pada data pihak ketiga, hasil agregasi. Contoh sumber data yang berguna seperti survey nasional di perancis misalnya, atau survey longitudinal tentang konsumsi rumah tangga di eropa, atau perkembangan data penjualan sektor unggulan indonesia di Eropa, dengan kode ISIC yang mendetail (setau saya di eropa ISIC nya bisa sampai 6 digit), dll. sepertinya sangat perlu untuk kita miliki untuk pemetaan potensi ekspor Indonesia, sebagian dana bisa digunakan pula untuk ini. contoh kecil, diseluruh benua eropa, saya hampir yakin industri souvenir parawisata didominasi produk dari cina, ini salah satu kejelian dari intel intel ekonomi cina.

Hari ini mimpi saya baru tiga, smoga nanti ada igauan dan mimpi mimpi lainnya..


BBM, logistik, dan Politikus bebal

Lagi lagi minyak, bosan sebenarnya mengomentari kelakuan anak negeri atau politikus, diulang ulang itu saja komentar mereka, tidak ada solusi, cuma syahwat berkuasa saja. Apakah mereka tidak juga mengerti bahwa BBM naik itu suatu keniscayaan, maka sudah selayaknya subsidi dikurangi bahkan dicabut secara gradual, mengutip petuah genghis khan "only fools who fought in a battle which is impossible to be won". Bayangkan di 2009 diperkirakan harga minyak mentah akan mencapai 200 dollar per barrel, dengan asumsi harga dibawah 100 euro per barrel dalam APBN berapa dana subsidi yang mesti dikeluarkan, atau berapa uang yang bisa dihemat jika harga minyak dinaikan? sangat besar sekali dana APBN yang bisa di re-lokasikan.

Inflasi yang meningkat itu jelas, akan mengurangi daya beli masyarakat, anak SD juga mengerti, tak perlu lah Mahasiswa dan politikus mengulang ulang lagu sumbang tersebut, perlu diingat inflasi sedang melanda dunia, bukan hanya Indonesia, baru kali ini saya mengalami di Perancis harga harga bahan pokok (terutama beras) naik sekitar 10 persen setiap minggu, bisa dibayangkan, perancis yang tingkat inflasinya telah relatif tinggi dibanding negara uni eropa lain (berkisar 1.8-2.2 persen) kini diperkirakan akan mengalami tingkat inflasi yoy hingga 4 persen, jauh memang dibawah Indonesia, tetapi lonjakan 100 persen dari perkiraan menunjukan lonjakan harga yang luar biasa dan persisten.

yang terpenting adalah membuat sistem yang bisa menjadi "buffer" dari eksternal shock ini, , Komentar bahwa rakyat miskin yang akan terkena efek negatif dari Minyak menurut saya hanya justifikasi moral dan alasan "heboh" yang politis, karena sebenarnya efek negatif inflasi akan lebih terasa oleh kaum urban dan menengah ke bawah yang steril dari BLT karena mereka adalah masyarakat non miskin, tapi vulnerable, angka perkiraan orang miskin adalah sekitar 7-8 persen total penduduk Indonesia (upah dibawah $1 per hari), sedangkan untuk level vulnerable sekitar setengah dari penduduk (49%).

BLT sangat penting artinya bagi rakyat miskin untuk bertahan dari eksternal shock ini, sayangnya tingkat kesalahan penempatan yang tinggi (smeru estimates : 45% salah sasaran), dan tingkat korupsi yang tinggi sangat mengganggu proses ini, studi dari Olken(2005) menunjukan rent seeking behavior besarannya berbanding lurus dengan banyaknya tangan birokrasi, semakin menuju ke sasaran, semakin besar pula rent seeking tersebut, studi dari Gauthier(2007) juga menunjukan bantuan kesehatan sebagian besar tidak sampai ke sasaran, di uganda misalnya, 86% dana kesehatan di korupsi dalam bentuk rent seekers pada harga obat (nilai obat lebih besar dari nilai asli atau obat yang diberikan gratis diperjualbelikan), dan berkurangnya dana yang mengalir ke fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukan betapa sulit pendistribusian BLT tersebut tanpa sistem yang jelas. Sebagai institusi, kantor pos yang tersebar di seluruh indonesia, akan lebih baik dalam menyalurkan dana BLT, begitu pula dengan kantor PPK (penyalur dana kecamatan development project), akan jauh lebih baik lagi jika orang miskin memiliki rekening di kantor pos dan mengatur sendiri uang nya tersebut. Cek kosong berupa kupon terbukti tidak efektif karena kupon tersebut sendiri adalah quasi-money yang dapat diperdagangkan.

Masalah yang sama terjadi pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan inkind relatif tidak efektif dibanding dengan bantuan uang, kemungkinan pertama, barang yang datang tidak sesuai nilainya dengan nilai pembelian. Kedua, bantuan berupa barang (terutama kertas dan buku) beresiko tinggi diperdagangkan (seperti kupon dan kasus obat) oleh oknum sekolah. Seperti umumnya masalah principal-agent, masalah korupsi yang tinggi ini harus diperbaiki dengan sistem insentif dan supervisi yang tepat carrot and stick dalam artian payung hukum yang tegas sangat krusial dalam hal ini.

Bantuan Langsung Tunai memang sangat penting tapi tidak cukup, karena BLT berusaha untuk meminimalisir efek eksternalitas negatif dari kenaikan BBM terutama bagi orang miskin, tapi tidak signifikan bagi masyarakat yang termasuk kriteria vulnerable, eksternal shock sangat besar efeknya bagi bagian masyarakat yang vulnerable dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi (smeru, 2001), ini menunjukan quintile terbawah dari vulnerable people adalah yang paling besar terkena efek kenaikan BBM. Cara paling baik yang bisa dilakukan adalah berupaya menjaga kestabilan bahan pokok lainnya selain minyak , disini fungsi optimal logistik sangat dinantikan, fungsi logistik bulog dan pertamina selama ini menjadi keraguan besar, karena ketidak mampuan menyediakan pasokan yang berkesinambungan terutama bagi barang subsitusi dari minyak seperti gas. Adalah suatu aib besar ketika BUMN sebesar pertamina tidak dapat mengatasi kelangkaan gas, menurut saya ini dikarenakan ada monopoli terselubung pada rentang agen (belum lagi pertamina sendiri yang juga praktisi monopoli,tapisudahlah), pertamina seharusnya menyediakan pesaing bagi para agen tersebut, katakan lah pusat distribusi gas di tiap unit POM bensin, sama seperti halnya dengan pendistribusian kupon BLT di tahun 2005 rent-seeking dari intermediaries agent berasal dari informasi yang asimetris, dalam hal ini pusat distribusi gas. Akses mudah, murah dan pasti dari gas dapat meredam efek negatif dari kenaikan BBM bagi kalangan vulnerable dan mempermudah proses mutasi minyak ke gas. Begitu pula dengan BULOG, BULOG mesti mengerti bahwa perilaku petani juga memiliki pengaruh penting dalam penyerapan gabah kering, faktor resiko jatuhnya harga gabah di pasaran pada saat panen membuat petani berlomba menjual gabah basahnya, yang berujung pada self fulfiling behavior, karena harga terdorong ke bawah, resiko yang besar dari fluktuasi harga dan seringkali juga ketidak pastian musim ini juga membuat pemilik lahan bersedia berbagi resiko dengan rentenir/tengkulak dengan menjualnya dalam versi basah ke tengkulak (versi lain dari share-cropping) walaupun dengan keuntungan yang lebih rendah (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh BULOG, terkait dengan lag pembayaran dan birokrasi), dari sisi pendistribusian juga masih perlu banyak yang dibenahi, pendistribusian beras (setidaknya yang terlihat di media) , dari kapal ke gudang-gudang seperti layaknyanya pergudangan di Indonesia, masih sangat primitif, dengan menggunakan manpower. Jika saja dana non budgeter dulu dipergunakan untuk dana perbaikan standard operation procedure dan barang modal, niscaya pendistribusian bahan pokok akan jauh lebih baik. Saya yakin banyak ahli logistik di Indonesia, dan seandainya BULOG, pertamina dan PGN bersedia membuka diri dan terus memperbaiki diri, masalah logistik akan mudah teratasi.

Jika memang PT gas negara, BULOG dan pertamina tidak mampu mempermudah akses terhadap gas, dan bahan pokok maka sudah selayaknya pertamina dan PGN dan BULOG dilikuidasi dan kita membuka lebar lebar terhadap perusahaan distribusi asing.

kenaikan harga minyak sudah jadi barang basi, dan tidak selayaknya jadi ajang politisasi sesaat,sudah saatnya kita menerima kenyataan bahwa minyak fosil sedang menuju kepunahan, alangkah lebih baik apabila kita pergunakan dana berlebih untuk memperbaiki akses terhadap peluang daripada untuk menambal lobang yang kian hari kian lebar. Tidak banyak orang tahu bahwa banyak potensi tersembunyi di negeri kita, batang padi sekarang bisa diolah menjadi bahan chip komputer, minyak jelantah bisa dibuat menjadi bio-diesel, para peneliti bisa membuat radar dengan menggunakan batterai kecil karena listrik yang digunakan hanya berkisar 1-5 watt, perkembangan sollar cells di LIPI dan BPPT juga semakin gencar, menuju pemberdayaan listrik murah dan banyak lagi, para politikus dan mahasiskus (mahasiswa yang gemar sirkus politikus) sebaiknya sadar bahwa dana yang dibakar sia sia di jalan raya adalah opportunity cost bagi produksi masal barang barang masa depan, begitu banyak hasil penemuan yang hingga kini berdebu dan dipajang di loker loker BPPT tanpa produksi masal. Perlu diingat, pengurangan subsidi dalam periode dua tahun saja (2005, 2006) bisa menghasilkan penghematan besar untuk mengirim 2500 peneliti untuk belajar keluar negeri hingga 2009, apabila jika kita bersedia berhemat, mengurangi konsumsi BBM sekarang, Indonesia akan lebih baik bagi keturunan kita kelak. Semoga.




Cincha goes to harvard

I must admit she got the spirit. But lack of attitude. As far as I know, we Indonesian rarely talk like you did chincha, bragging around for studying in harvard, princeton and Yale. we do have those dreams in mind, but we understand one word,"uncertainty", so we always watch our mouth and tongue. I really not in the mood for commenting her, but I'll post this anyway. the kid is not to blame,there's something wrong with the society raising her.

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger