Percakapan di sebuah warteg (II)

X :Kita ngomongin yang kemaren lagi yuk, sistem ekonomi aneh aneh itu..
Y :ok, gini sekarang mungkin supaya lebih adil,kemarin kan kita bahas banyak keynes,
sekarang menurut lo gmana tentang kutub satu lagi?
X :ekonomi pasar? hmm,kok gua liat sistem yang ini kok rada tega ya?
Y :well, gak juga,pandangan utama klasik itu setiap intervensi pasti ada konsekuensi
sering kali niatnya baik, tapi akhirnya malah jadi salah langkah.
X : kok bisa?
Y : misalnya,orang tua yang "menilai" kemampuan anaknya menggambar, dimasukan lah ikut les melukis,waktu si anak jadi habis buat melukis
X ; lho, bukannya bagus, biar potensi nya berkembang,ntar jadi pelukis hebat
Y : tidak selalu kok, masalahnya adalah "penilaian subjektif" orang tua itu, dengan mengarahkan menjadi pelukis berarti membatasi kesempatan dia untuk menjadi arsitek hebat,atau bahkan pencipta seperti leonardo da vinci yang doyan ngegambar juga.
X : iya juga ya, ini namanya biaya kesempatan yang loe agung agungkan itu ya?
Y : exactly.
X : jadi lo neolib ya?
Y : weits jangan suka ikut2 politikus deh. ide ekonomi pasar ini paling duluan ngetop, jadi banyak koreksi dan kritik, biar gampangnya kita analogikan keluarga kemarin ya, asumsikan anaknya ada dua. Masalah pertama adalah adanya "efek samping"
katakan anak pertama orangnya ulet telaten,dll, anak kedua, males, manja, ngompol sembarangan.
X :yah ekstrim banget,ekonom suka ya banding bandingin yang ekstrim..
Y :nah kalo kondisi begini si anak (1) bakal beresin terus kamarnya si anak(2),ini bermasalah soalnya anak(1)bakal berkurang belajarnya, anak(2) makin getol maen facebook.
X : yah solusinya apa dong? fatwa haram facebook?
Y :gua gak ikut ikut fatwa deh,solusinya itu orang tuanya hire pembantu,biar aja si anak (1) belajar rajin, si anak (2) juga ntar learn his lesson pas ngeliat rapot. sayangnya pembantu ini gak membantu si anak(2)cuma mengurangi repotnya si anak(1)
Y : kritik kedua informasi ga simetris,katakan gini, orang tua beliin buku buat dua dua nya maksudnya biar sama sama belajar, anak(1) dipake buat belajar, anak(2) dipake buat gambar,nah bisa ditebak fasilitasnya efektif atau nggak yang disediakan orang tua?
X : loh ini kan ala keynes dong, pake dibeliin buku?
Y : gak juga, orang tuanya kan ga nyuruh dipake buat apa, cuma dikasih buku kosong
Y : nah dua contoh kritik ini melahirkan satu cabang dalam ilmu ekonomi, namanya ekonomi publik
X : loh ada cabangnya lagi?
Y : wah masih banyak, misalnya kalo anak yang satu cacat sejak lahir, sedang anak kedua autis luar biasa, nah kalo orang tuanya ga bergerak bagaimana? dari sini lahir ekonomi pembangunan, gimana caranya dua anak ini bisa berkembang sama sama.
Y : Ada juga kasus anak (1) yang ganteng luar biasa,pinter,solatnya rajin, sedang anak(2)sedikit kurang ganteng,dan sedikit bodoh. Akibatnya orang tua bakal nah sampai kiamat juga cenderung ke anak(1) padahal anak(1) ini boros,kalo liat pasar becek maunya naek ojek, jatahnya anak(2)jadi berkurang. kalo di ekonomi namanya ini monopoli alamiah, itu lho kenapa di tempat kita ada KPPU.
X : Ada lagi?
Y : ada kasus lagi kalau preferensi orang tuanya bisa dimanipulasi,contoh orang tuanya suka sama dangdut, anak(2)kebetulan mukanya mirip ridho irama, suaranya oke punya, anak(1)ga punya bakat nyanyi. kebayang gak si anak(1)ujung ujungnya dicuekin orang tua?
X : loh kok jadi kebalik?
Y : iya, ini karena si anak(2) "memanipulasi elastisitas", orang tua lebih suka dangdut daripada liat rapot anaknya, akibatnya si anak(2)lebih diperhatikan soalnya dia exploit bakat dangdut, tapi gak pernah belajar. Dari sudut pandang welfare keseluruhan si anak(1) rugi karena dia akhirnya gak ada insentif untuk melakukan yang dia suka, belum lagi kesempatan untuk jadi jenius, hehe..

X : nah kok jadi ruwet sih, kok banyak sekali kasus nya ya?
Y : yah itu lah,masih banyak lagi kasus kasus lain, politikus kita kan nyaho nya cuma
neolib sama neolib,udah gitu belagak nantang professor ekonomi debat, tong kosong emang nyaring bunyi nya.
X : jadi siapa yang benar? makin ga jelas kalo liat koran sekarang
Y : ekonom yang salah most likely adalah ekonom yang merasa paling benar dan selalu bilang yang lain salah, ekonom yang benar adalah ekonom yang berpikir. menurut gua seorang capres tidak boleh mengkotak-kotakan diri dalam kotak neoliberal,pancasila, kerakyatan atau apapun,dia harus berdiri di atas semua itu, dengan tujuan yang satu,
kemakmuran bersama. Keadilan bagi smua, tidak hanya yang kecil tapi juga yang besar.

0 comments:

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by GosuBlogger | Blue Business Blogger